Website Taman Ilmu

Setelah jalan-jalan kerumah mbak choco yang ngiming-ngimingi tulisan proyek monumental, segera saya meluncur ke rumah pakdhe yang membuat kontes ini. Ajakan yang sangat menantang!!!. Saya termasuk orang yang jarang membuat proyek tahunan, hanya sesekali membuat tempelan di dinding tentang cita-cita tanpa menyertakan tahun kapan pencapaian cita-cita itu akan dilaksanakan. Absurd sekali bukan?!?, maka tantangan ini sungguh menggelitik saya.

Sebenarnya saya mau menggarap proyek ini diam – diam, ingin rasanya berbuat baik yang anonym agar tangan kiri tak sempat melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan. Tapi rasa-rasanya sudah setahun lebih proyek ini hanya berkembang di angan – angan. Dan setelah saya jembrengkan satu persatu bentuk bagian proyek, ternyata banyak hal yang tidak bisa saya lakukan. Dengan kata lain, hal – hal itu belum saya kuasai. Jadi saya berharap, dengan memajang proyek monumental ini, dapat sebagai pengingat diri bahwa saya pernah mencanangkan sesuatu (dan tentu saja semoga dapat terpenuhi), sekaligus mungkin dapat menghimpun rekan – rekan yang bersedia menjadi kontributor/ membantu pelaksanaan/ membantu sisi teknis lain. Aminn…

Proyek apakah itu?

Seringkali saya browsing untuk mendapat bahan bagus pengajaran anak – anak, yang islami tentunya. Saya menemukan beberapa website yang menjadi sumber ilmu, sayangnya kebanyakan masih website berbahasa inggris. Salah satu yang berbahasa Indonesia adalah disini. Setelah melihat website itu, Subhanallah… saya merasa terbantu dengan berkunjung kesana. Dulu bang aswi dkk pernah punya website ceritaanakislam, tapi entah kenapa sekarang sudah tidak bisa diakses.

Nah, website senada itulah yang ingin saya buat. Saya ingin membuat sebuah website yang berisi ilmu untuk anak – anak muslim. Judulnya mungkin TAMAN ILMU. (hehehe, gak kepikiran apalagi). Baik itu tentang akhlak, adab, ibadah, sirah dll. Kesemuanya itu nanti akan dikemas secara menarik, dengan ilustrasi sana-sini, disimpan dalam bentuk pdf dan siap cetak. Sehingga apabila ingin digunakan untuk para ibu/ guru Paud, insyaAllah tinggal ngeprint. Namun tentunya ilustrasi dan isi harus ditahsih (verifikasi) terlebih dahulu agar tidak ada yang berselisihan dengan kaidah-kaidah Islam.

Saya sudah mencoba merintisnya dengan kolom di pojok atas, “Dongeng Anak Muslim”, sebuah cerita gubahan yang terinspirasi oleh Hadits Shohih. Sayangnya mood saya kok mandeg. Hehehe *malu*.

Detil website yang saya inginkan adalah sbb :

  1. Dongeng Anak Muslim (didasari oleh Hadits), yang akan menjelaskan isi hadits dengan penggambaran cerita sehari – hari yang ditemui anak – anak sehingga lebih mudah dicerna.
  2. Siroh (kisah nyata)
  3. Alat Bantu belajar (bisa berbentuk flashcard atau lembar kerja yang berisi tentang science, mewarnai, hijaiyyah, calistung dll)
  4. Belajar Bahasa (English dan Arab mungkin. hehehe, krn sy juga kurang oke kemampuan bahasanya)
  5. Majalah mini bulanan (berisi gado2 untuk bahan bagi anak PAUD)

Seperti yang saya tulis diatas, setelah saya jembrengkan ide proyek saya, ternyata saya gak bisa ngutak-ngatik blog dengan baik. Bahkan untuk membuat kolom (apasih namanya) DAM itupun saya harus ngutakngatik internet selama seminggu, sekarang sudah mulai lupa lagi. Ini detil kesulitan saya :

  1. Kurang paham layout blog.
  2. Butuh motivator dan partner menulis. hahaha.

Proyek ini lamaaa sekali saya simpan di buku impian saya. Saya tahu saya sangat moody, dalam satu hari jika mood sedang bagus, maka 3 tulisan bisa selesai, sedangkan jika ndak bagus maka berbulan-bulan blog ini bisa kosong. Sayapun harus punya target, pernah saya menyelesaikan satu buah buku panduan PAUD dalam 1 bulan saja, tapi begitu kelar ya… males nulis lagi. Hihihi. Saya berharap target pembuatan website itu dapat dicapai dalam waktu 3-4 bulan kedepan dan pada akhir tahun depan, minimal ada 30 isi tulisan didalamnya. Aminnn Ya Rabb

Cara yang coba saya rencanakan untuk memenuhi proyek monumental itu adalah :

  1. Mencari orang yang mau ngasih domain beserta layoutnya. Hehehe
  2. Mencari partner/ Kontributor yang se-ide
  3. Eksekusi!

Kedepannya, tak lepas kemungkinan akan ada pengembangan website, tapi semoga website yang ini bisa segera terlaksana.

Ngomong-ngomong, ada yang mau join dengan saya? ^.^

 Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.

Kontes-Unggulan-Proyek-Monumental-20145-150x124

Iklan

Menyemai Cinta Anak – Anak

“Menjadi orangtua bukan hanya status karena mempunyai anak. Namun, karena kita secara sadar mempunyai peran untuk mendidik dan mengasuhnya sehingga mereka dapat tumbuh dalam perasaan dicintai dan merasa hidupnya diterima. Jadi, mereka pun dapat tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang arti hidup ini”

(@anak juga manusia)

Dulu sebelum punya anak, saya mengira bahwa kecakapan menjadi orangtua akan otomatis kita miliki sesaat setelah kita punya anak. Perubahan fisik kita, kehadiran fisik anak akan mempengaruhi pola pikir kita terhadap pengasuhan anak – anak secara natural. Naturally… i thought it came naturally, as natural as kids’s appearance. Ternyata saya salah! Bahkan saya terlambat menyadarinya, hingga Salman – anak pertama saya- yang saat itu berumur 9 bulan, memberitahu saya dengan bahasanya.

Ada tiga kesalahan “fatal” yang saya lakukan saat pengasuhan Salman.

Pertama, saat mengandung Salman saya tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup tentang persalinan dan breastfeeding. Jadi ketika saya melahirkan Salman, saya sempat mengalami pendarahan, pembengkakan jalan lahir, sembuh lebih lama, mengalami baby blues, dan berpikir bahwa “memberi susu formula tambahan pada anak sedari lahir itu tidak masalah“.
Pada saat kunjungan pertama untuk imunisasi dan cek pasca melahirkan (H+7 minggu), Alhamdulillah kedua dokter SPA dan SPOG menasehati saya untuk segera menghentikan susu formula. Maka, meski seminggu pertama menyapih Salman dari susu formula adalah berat, Alhamdulillah… kami berhasil. Kami meneruskan breastfeeding tanpa bantuan sufor hingga 9 bulan. Dan dia tetap ASI hingga 2 tahun 3 bulan.

Kedua, saya tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup perihal rational medication atau pengobatan yang rasional. Jadi, ketika Salman berusia 2 minggu dan mengalami grok grok, saya yang tetiba panik, segera membawanya ke dua dokter, dan kedua-duanya memberikan obat. Dokter pertama memberikan obat tak rasional yang umumnya diberikan untuk anak alergi umur satu tahun keatas!. Dokter kedua memberikan obat yang membuat pub Salman berbusa. Astaghfirullah, setelah browsing sana – sini, saya baru menyadari bahwa penyebab Salman grok – grok adalah debu dirumah. Pasca pembersihan besar – besaran dirumah (dan tentusaja penghentian obat), grok – grok Salman pun menghilang.

Ketiga. Kesalahan paling menyayat hati yang pernah saya lakukan adalah: tidak cukup memberikan waktu berkualitas padanya!. Sepulang kerja, saat saya demikian lelah, seringkali memilih rehat dulu ketimbang langsung memeluk dan mengajaknya bermain. Padahal utie pernah mengingatkan saya perihal ini, namun rasa lelah lebih menguasai diri saya. Hingga saat Salman berusia 9 bulan, dia terjatuh dan saya ingin memeluknya. Dia merespon dengan cara yang luar biasa. DIA MENOLAK SAYA, dan berlari mencari utienya. Hati saya seketika hancur, lebur berkeping – keping. Saya memaksanya tetap berada dalam pelukan saya dan berkali – kali bilang “maafkan umie, maafkan umie”. Dan Salman makin histeris sehingga saya terpaksa menyerahkannya kepada Utie.

Kejadian – kejadian itu membuat saya berazzam pada diri sendiri, membuat saya berjanji bahwa saya akan terus menjadi orangtua pembelajar. Bahwa saya tidak akan pernah memberikan waktu sisa untuk anak – anak saya, bahwa keluarga saya adalah prioritas nomor satu dalam hidup saya. Dan saya tidak akan mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang saya lakukan pada Salman. Selelah apapun saya, setertekan apapun saya.

Alhamdulillah, bantuan keluarga, ahli – ahli dalam seminar parenting, milis, buku dan sumber ilmu lainnya memberikan tambahan ilmu kesehatan dan pengasuhan anak bagi saya. Saya tak lagi irasional dalam pengobatan, dan akhirnya berhasil memberikan full ASI kepada anak kedua hingga satu tahun.

Saya tahu tidak mungkin menjadi ibu yang sempurna di semua bidang, maka saya memaksimalkan diri di bidang keahlian saya untuk memikatnya. Saya lebih banyak menyediakan waktu berkualitas untuk memeluk, menggendong dan mendongeng untuknya. Membacakan buku sebelum tidur adalah wajib, sehingga kini anak-anak mengemari buku dan sayalah pendongeng favorit mereka.

Saya bersyukur, masih diberi kesempatan oleh Allah untuk terus belajar dan mengemban amanahnya. Saya berterimakasih penuh kepada Salman yang mengingatkan saya dengan bahasanya. Karena itu, kerapkali saya menyebut Salman sebagai mentor saya pertama kali ketika  menajdi orangtua.

Terkadang, ada beberapa orang yang perlu terjatuh dulu untuk menjadi mengerti. Tapi alangkah beruntungnya orang yang sudah mengerti tanpa perlu terjatuh. Melahirkan anak tidak serta merta menjadikan kita orangtua yang hebat, karena profesi orangtua sebenarnya adalah profesi pembelajar tanpa henti.

Semoga kami, dan kita semua mampu mengemban amanah spesial yang Allah anugerahkan kepada kami.
Amin…

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

PERTEMUAN KEMBALI

“Nia?” Pria tegap besar yang baru saja selesai berurusan dengan counter checkin itu menyapaku.

“Bhirawa?” reflek aku menyebut namanya.

Aku melihatnya lagi, setelah 20 tahun. Tak ada yang berubah darinya, senyumnya, langkah tegapnya, rambut rapinya dan harum lembut Biore yang meruar seperti biasa. Hanya rambut memutih yang membedakannya dengan sosok yang tersisa di ingatanku.

“Mau ke Surabaya?” dia menanyaiku lembut.

“Iya, penerbangan Garuda jam 10.40 seat 16 E” jawabku spontan berusaha terlihat lucu.

“Wah sama, aku juga ada meeting di Surabaya, Garuda jam 10.40 seat 16F! ayo bergegas, itu panggilan terakhir” dia tersenyum lebar.

Penerbangan 35 menit itu kami lalui dalam sunyi. Kaku, canggung, dan rasa bersalah terus melingkupiku. Sesekali aku merasa dia sedang melirikku, dan memainkan jemarinya yang tak bercincin.

Setelah landing, Aku berbasabasi menyampaikan salam perpisahan, dan segera melaju mengambil bagasi.

“Selamat tinggal” ucapku getir.

 “Sampai jumpa Nia” lambainya dengan senyum.

Pikiranku tetiba kosong, bahkan hingga aku menggeret koperku keluar bandara dan petugas meminta nomor bagasiku.

“Maaf bu, nomor bagasinya?”

Aku mengambil boarding pass dalam tas dan bergegas menunjukkannya ke petugas. Tapi srettt… secarik kertas ikut jatuh ke lantai. Kuambil lalu kubuka perlahan, akupun terbelalak membacanya,

Nienie, aku rindu.

0812345678

Kapten Bhirawa

Ah, surat cinta dari Bhirawa. Hanya dia yang pernah dan boleh memanggilku nienie. Dan hanya aku yang pernah dan boleh memanggilnya Kapten.

Tiba – tiba handphone yang baru kunyalakan setelah landing berbunyi nyaring, sebuah nama muncul di layar,

PAPANYA ANAK-ANAK”.

Nomor suamiku, pria yang membuatku pergi begitu saja meninggalkan sang Kapten 20 tahun yang lalu.

Hatiku bergetar, lututku lemas.

word count : 255

Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest:Senandung Cinta

SIM, Setelah 10 Tahun

Saya belajar motor sejak SD, waktu itu papa beli Suzuki bravo yang bodynya ramping dan agak rendah. pas belajar nyetir, brakkk…. langsung nabrak jip orang.

Pernah suatu hari saat sy masih SMP, sy mundurin sepeda motor, brukkkk sy jatuh dengan posisi tangan nahan beban motor, langsung masuk UGD untuk diperban.

Mulai naik motor lagi setelah kuliah, sudah lumayan ahli sih. Tapi setelah sy punya suami, sy tidak pernah nyetir sendiri, karena selalu diboncengin.

Masalahnya adalah, sejak 10 tahun itu (dihitung dari umur 17 tahun yaa), sy kalau nyetir nggak pernah pakai SIM. huehehe… Lama -lama kok jadi mikir, masak iyah sih mau terus kucing – kucingan sama polisi?. Kebetulan SIM Abie sudah habis masa berlakunya, akhirnya kami sepakat bikin SIM untuk kami berdua. Maunya sih ikut prosedur, karena kalau disuruh “nembak” ogah ya… wong ada yang murah ngapain nyari mahal?.

SAMSAT di Pekanbaru ini, kayaknya sih udah mulai teratur ya.. step by stepnya sudah cukup jelas dan biayanya transparan. Karena saya baru nyobain bikin SIM disini, saya tidak tahu kalau harga yang ditempat lain gimana. Kami beli map (5 ribu), bayar tes kesehatan (25 ribu), beli formulir (100 ribu), dan materai kalau gak salah.

Setelah itu, KTP Asli, formulir yang sudah diisi, dan surat kesehatan diserahkan ke petugas. Ngantri dulu, lalu kita akan dipanggil untuk foto, dan rekam sidik jari. Haduhh… petugasnya agak galak disini, mungkin maksudnya teges ya, tapi buat saya yang takut berurusan sm polisi ya serem juga. hehehe.

Setelah foto, kami ikut tes tulis. Ada 30 pertanyaan “yes or no” di komputer, isinya seputar tata tertib berlalu lintas. Seperti marka bergaris, muatan, lampu lalu lintas, menyalip dll. Alhamdulillah, sy cuma salah 3 dan suami salah 5, jadi untuk tes tulis ini kami berdua lulus (#bangga banget). Bersamaan dengan kami buanyakkkk yang gak lulus tes tulis loh. Ada yang karena emang gak tahu jawabannya, ada juga yang karena dia gaptek ngoperasiin komputernya. Bagi peserta yang tidak lulus, disuruh ngulang 2 minggu berikutnya.

Sementara yang lulus ngantri untuk ikut tes praktek. Disini ada beberapa orang yang sudah ujian praktek 3 kali lho. Itu berarti dia harus ngulang proses dari awal, karena kalau sudah gagal 3 kali uangnya akan dikembalikan dan harus ndaftar dari enol lagi.

Di ujian praktek, sepeda motor sudah disediakan, ada yang matic, motor cowok dan motor bebek biasa. Ada 6 rute yang harus dilewati, rute yang lurus, belok kanan – kiri, zig-zag, putar balik dan melingkari angka 8. Lucunya nih, waktu jelasain rute pak polisinya tidak pakai praktek, jadi kami tidak tahu, sebetulnya pak polisi itu bisa ngelewati rute itu atau tidak? hahaha. Sy gagal di rute putar balik dan rute lurus karena keliru nurunin kaki, sedangkan suami gagal rute putar balik. Jadinya, kami harus ngulang dua minggu lagi.

Tapi, Alhamdulillah dua minggu berikutnya kami berhasil mendapatkan SIM-nya. Setelah 10 tahun, saya berasa jadi warga negara yang baik. hehehe.

Note : Besok – besok, mau ngajarin anak – anak untuk dapat SIM dulu baru boleh megang motor dah, SIM-nya gak pake nembak tapi.

Terbang bersama abie

Tahu kontes ini dari blognya papa aqiil dan om nh, lgs semangat pengen ikut, secara kebanyakan obyek foto adalah abie dan anak2. cuman jadi bingung sendiri, milih foto yang mana?!? bukan hanya karena kebanyakan, tapi juga karena gak ada yang bagus kualitasnya. hahahaha.

Tapi gakpapalah sy ikutin foto yang ini ajah. efek siluetnya itu yang bikin sy seneng.

Foto ini diambil ketika Salman 5 bulan, September 2009. Waktu itu kami sedang libur lebaran. Karena tiket mahal, sementara tetangga – tetangga di sekitar rumah pada pulang kampung. Maka kami “terpaksa” nginep di hotel.

Here they are… Flying with Abie… Salman terbang bersama abie

terbang bersama Abie

terbang bersama Abie

Foto diambil siang menjelang sore, dengan kamera poket SONY (maaf lupa serinya)

untuk Ibu Fauzan, Mama Olive, Papanya Cintya-Agas

Menitip Doa pada Nama Buah Hati Kita

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Karena itu, nama anak pertama kami adalah : Abdillah (similar with Abdullah), dan nama anak kedua kami Abdurrahman.

Sedari awal, kami sudah berazzam untuk memberi nama anak – anak kami dua nama seperti diatas, atau nama – nama yang menghambakan diri kepada Allah (Abd + Asmaul Husna).

Sedangkan untuk nama depannya kami memiliki beberapa syarat, Pertama merupakan nama – nama sahabat, tabiin atau tabiin tabiin, Kedua, berjumlah enam huruf. hehehe. Kenapa enam huruf ? karena nama saya (Elaine) dan nama suami saya (Irawan) sama – sama berjumlah enam huruf kan? Hehehehe, njelehi yo ben

Dan terpilihlah nama anak pertama kami adalah Salman Abdillah, Sedangkan anak kedua bernama Sufyan Abdurrahman. Cerita mengenai detil arti nama Salman ada disini, sedangkan detil arti nama Sufyan ada disini.

Ringkasnya, arti nama anak – anak saya adalah sebagai berikut :

1.       Salman Abdillah (Hamba Allah yang Selamat – di dunia dan akhirat)

Nama Salman diambil dari seorang sahabat Rasulullah, Salman Al Farisi (Salman dari Persia) yang terkenal akan kegigihannya mencari kebenaran, seorang yang pekerja keras, seorang yang zuhud, dan seorang pemimpin adil yang sederhana.

2.       Sufyan Abdurrahman (Sufyan – Hamba yang Maha Penyayang)

Diambil dari nama ulama besar yang merupakan generasi tabiin, Sufyan Ats Tsauri. Seorang yang berani mengatakan yang Haq adalah Haq dan yang Bathil adalah yang Bathil. Mendapat julukan Amirul Mu’minin fil Hadits (pemimpin kaum mukminin dalam masalah hadis).

Menentukan nama buah hati (muslim) sebaiknya memiliki pondasi yang kuat, baik nama lengkap maupun nama panggillannya (Saya pernah mengulas mengenai pemilihan nama panggilan disini). Karena nama adalah doa yang kita sematkan dalam dirinya. Pilihan, arti dan filosofi nama pun sebaiknya segera dikisahkan kepada anak kita. Pertama agar anak – anak mengerti harapan kita atasnya, dan kedua agar anak – anak mencintai nama yang diberikan kepadanya.

Pada zaman sekarang, banyak sekali anak – anak yang sengaja mengubah nama panggilan mereka agar terdengar keren dan beken. Bahkan sepupu saya semenjak SMA hanya menggunakan nama aslinya pada saat – saat yang membutuhkan unsur legalitas saja. Sehari – harinya di pergaulan dia menggunakan nama panggilan yang dia pilih sendiri.

Nama – nama yang menghambakan diri kepada Allah, nama nabi, nama orang shaleh dan nama – nama dalam bahasa arab yang memiliki arti – arti indah dapat dijadikan pertimbangan dalam memberi nama. Sedangkan nama – nama yang berarti penghambaan kepada selain Allah, nama – nama orang buruk, nama – nama yang jelek atau justru nama – nama yang berlebih – lebihan harap pula tidak digunakan.

Satu lagi, dalam memberikan nama dalam bahasa arab, sebaiknya kita juga memahami kaidah – kaidahnya. Sebagai contoh, tahukah rekan – rekan bahwa nama Maysarah, dan Hudzaifah adalah nama laki – laki?, Nama Silmy biasa digunakan untuk laki – laki?. Penggunaan kata penegas juga seringkali salah kaprah, Semisal Al Farisi yang berarti dari Persia. Kami tidak menggunakan nama Salman Al Farisi  karena anak kami memang tidak berasal dari Persia. Lalu penggunaan Az (Az Zahra), Asy (Asyyifa), Ar (Arrayyan) yang seringkali masih menjadi nama depan, padahal nama itu letaknya seharusnya di belakang karena merupakan penegas, julukan.

Well, itulah arti nama anak – anak kami dan pedoman memberi nama pada anak sepengetahuan saya. Sesuai dengan permintaan Shohibul Kontes, saya ingin ikut menyumbang inspirasi nama bayi untuk anak mereka, yaitu :

Omar Abdurrahman

Omar adalah versi Inggris dari Umar. Ada dua Umar yang berasal dari silsilah yang sama dan sama – sama membawa kejayaan, kemuliaan dan kedamaian bagi Islam. Kedua Amirul Mukminin ini sama – sama berhasil mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Umar yang pertama adalah sang Kakek, kerap dijuluki Al Furqon (sang Pembeda), pribadi tegas yang bahkan ditakuti oleh setan. Kita mengenalnya sebagai Umir Bin Khattab. Konon, jika Umar memilih salah satu jalan, nisacaya setan akan memilih jalan yang lain J. Sedangkan Umar selanjutnya adalah sang cicit, Umar Bin Abdul Azis. Ditangannyalah kemakmuran merata, hingga serigala berjalan berdampingan dengan domba. Lantas Abdurrahman? sudah tahu sendiri kan artinya?

Semoga putranya menjadi pemimpin yang adil dan memegang teguh nilai – nilai Islam sehingga mampu mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Amin.

“BEAUTIFUL NAME FOR SMART BABY by Armita Fibriyanti”

 

Hero Berbuah Hero

Papa saya meninggal tepat sehari setelah saya menyelesaikan ujian UMPTN saya. Kanker paru – paru yang telah bersarang kurang lebih 5 bulan itu akhirnya membuat papa menyerah. 1 bulan lebih awal dari prediksi dokter yang sudah angkat tangan sebelumnya. Meski kondisi papa sudah nge-drop tiap harinya, kepergian papa tak ayal tetap menghantam ketegaran kami. Orang  bilang, papa menunggu saya menyelesaikan ujian, agar beliau bisa melihat saya menyelesaikan janji untuk menjadi dokter.

Well,… saya tidak sedang bercerita tentang kematian. Tapi tentang kehidupan yang terus berjalan setelah kematian itu.

Pada UMPTN pertama saya gagal!. Gagal masuk jurusan manapun, Karena pilihan saya hanya kedokteran  dan kedokteran. Baru pada UMPTN kedua saya masuk Universitas Negeri, tapi tetap…. bukan di kedokteran 🙂

Saya masuk di jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP. Jurusan yang saya tulis karena mengikuti pilihan teman (saya masih fokus masuk ke kedokteran waktu itu, demi memenuhi janji kepada papa). Tapi Qodarullah, jurusan inilah ternyata yang mencintai dan dicintai saya. Jurusan yang saya jalani sepenuh hati, jurusan yang membuat saya bahagia. Jurusan… yang kelak mempertemukan saya dengan jodoh dan kesejahteraan saya. 🙂

—-

Sepeninggal papa, kami pontang – panting, sebagai satu – satunya pencari nafkah. Kami kehilangan sosok utama, hal itu otomatis membuat kami runtuh seketika. Bukan hanya di mental saja tapi terlebih di bidang finansial. Imbasnya, kakak saya dropout dari sekolah. Biaya pendaftaran untuk ujian di STAN terpaksa saya berikan kepada adek untuk membayar biaya bulanan sekolahnya. Saya, yang waktu itu gagal lulus UMPTN, hampir-hampir patah semangat karena tahu bahwa saya tidak mungkin sekolah lagi. Qodarullah, wa Alhamdulillah. teman saya memberi gratis formulir pendaftaran D3 karena dia sudah lulus UMPTN, dan sahabat saya membiayai uang pendaftaran kuliah. Saya diterima di D3, dan sisanya…. saya berjuang mati-matian untuk bertahan agar terus kuliah. Pikir saya waktu itu, saya tidak boleh mengecewakan mereka.

Di tahun kedua, saya mencoba untuk mendaftar UMPTN lagi, dan Alhamdulillah saya di terima di Jurusan Ilmu Komunikasi. Honestly,,, saat itu saya berpikir lulusan S1 lebih menjanjikan. Jadi saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Masalahnya adalah…. saya tidak punya uang untuk melunasi biaya pendaftaran.

Sampai…..

Di sekitar tempat pendaftaran ulang, ada mas-mbak shalihah (ramah dan santun) mengatasnamakan lembaga amal, membuka pendaftaran untuk pengajuan beasiswa. Saya mencoba mendaftar, mengisi formulir dan menjalani sesi wawancara. Dan Alhamdulillah ya Rabbi….. saya dapat beasiswa senilai biaya pendaftaran. Qodarullah…. semua diatur oleh Allah melalui perantaraan mereka.

Dari kisah diatas yang ingin saya sampaikan adalah……. saya bersyukur menemukan  orang – orang (baik lembaga maupun perorangan) yang concern untuk membiayai pendidikan. Sejauh ini menurut saya pendidikannlah yang mampu merubah pemikiran orang. Bagi saya, merekalah sebenar-benarnya Hero. yang membuat orang lain, dari Zero menjadi Hero lain. Kenapa begitu? orang yang dibiayai pendidikannya dan mau berubah tentu akan berbuah menjadi Hero lain.

Kini, saya lebih memilih menyalurkan sedekah di bidang beasiswa. Dengan harapan, mereka – mereka yang terbantu pendidikannya akan merubah pemikirannya, lalu merubah nasibnya sendiri. Semoga, InsyaAllah….. Hero  – Hero itu akan mengubah si Zero menjadi another Hero. Hero Berbuah Hero.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden’s First Give Away”