Mimpi 800 Milyar

Have you ever dreamed got 800 hundred million rupiahs? I Have, and …. always have that dream.LOL

Gak tahu kenapa saya ngayal terusss dapat uang 800 milyar, entah dapetnya dari mana. Hahaha. Tapi cerita ngayalnya itu ndak seberapa, yang luar biasa adalah rencana saya bagaimana menghabiskannya. Salahsatu diantaranya adalah memberi bantuan buesar untuk sekolah dasar anak saya.

WHY?

Karena sekolah ini luar biasa menurut saya.

Pertama, dari segi biaya pendidikan. Saat kebanyakan SDIT jor2an biaya pendidikan, mereka hanya slightly lebih mahal dari SD Negeri, ada subsidi silang, free untuk dhuafa dst.

Kedua, sekolah ini bener2 dibangun dari nol. Literally. Dari bangunan satu lantai, pelan2 menjadi 3 lantai, uang pembangunan yang diserahkan oleh walimurid benar2 digunakan untuk membangun fisik sekolah. Sekolah ini juga ditopang Yayasan, yang sedikit demi sedikit mulai membentuk unit usaha sebagai sumber dana.

Ketiga, ini adalah sekolah berbasis tahfidz dan arabic, kebayang kannn kalau kita berdonasi ke Sekolah ini, mengalirlah pahala2 dari usaha memudahkan para hafidz cilik itu.

Terakhir, Letak sekolah yang masuk kedalam kampung, sedikit banyak menyebabkan likaliku. Selain karena jalannya sempit, dijalan masuk menuju sekolah, ada rumah penduduk. Jadi setiap kali kami anterjemput anak sekolah, akan ada pemandangan jemuran pakaian. Masih untung kalau pakaiannya adalah pakaian luar, kalau agak apes, bisa lihat berbagai macam pakaian dalam (sambil komat-kamit bukan pakaian dalam berenda yang dijemur. LOL). Pernah juga ada kasus penduduk yang semena-mena memblokir jalan karena niat pemerasan.

Hal-hal diatas sudah cukup kuat kali ya untuk jadi alasan berdonasi bagi pembangunan sekolah. Makanya, niat saya kalau dapet 800 Milyar, saya akan bangun itu sekolah. Bebaskan lahan di area sekolah, membangunkan rumah/apartemen cluster untuk para ustadz/ah beserta keluarga, serta membangunkan perpustakaan dan labratorium digital, dan seterusnya dan seterusnya…..

Itu kalau saya dapat 800 Milyar!

Hahahaha

Lalu saya dicubit sama Allah, cubitan kecil saja yang mampu membuat saya menangis hingga sesak di dada.

Betapa manusia sangat kikir untuk bersedekah. Betapa manusia seringkali menunggu “kaya” untuk bersedekah, Betapa manusia mengira bahwa syarat bersedekah adalah melimpahnya rezeki. Betapa manusia alpa…bersedekah itu tidak berbanding lurus dengan banyaknya harta. Betapa beribu alasan menahan tangan kanan kita terulur, “nanti saja kalau sudah kaya, nanti saja kalau mendapat rejeki nomplok, nanti saja….”

Whatsapp dari yayasan datang siang itu, Yayasan melakukan tukar guling dengan pemilik rumah didepan sekolah. Tukar guling rumah penduduk dengan tanah beserta rumah dibelakang sekolah yang luasnya tigakali lebih besar dari rumah mereka. Pemilik rumah masih mengajukan syarat, tambahan cash puluhan juta dan renovasi rumah yang ditukargulingkan. Karena sekolah butuh, maka disanggupi. Total biaya menelan 100juta, maka ditawarkanlah wakaf tanah kepada para wali murid.

Duhai jiwa…….perlukah menunggu mimpimu 800 Milyar untuk memenuhi panggilan sedekah ini?

-Tangerang Selatan, Semester II 2016-

Ketika Anak Bertanya : Mimpi Basah

Tanya-Jawab mengenai mimpi basah lagi – lagi dipicu oleh postingan teman saya di socmed tentang anak lelakinya yang bertanya tentang apa itu mimpi basah. Dan sebagai buibu yang punya dua anak lelaki, tentu saja saya membookmark pertanyaan sekaligus mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh anak – anak saya. Dan saya menemukan jawaban keren yang dari Ibu Elly Risman. Ada beberapa yang saya potong ya semata demi ringkasnya tulisan, versi lengkapnya bisa dibrowsing sendiri.

Menyiapkan anak laki-laki mimpi basah ( Aqil Baligh), by Elly Risman Ykbh

Dear Parents…

Salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk membicarakannya kepada mereka. Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7 tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya, dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah, ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah yang harus mengambil tanggung jawab ini.

Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah

Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih dahulu alat-alatnya :

– Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.

– Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU. Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk membicarakannya.

Apa saja yang harus disampaikan :

– Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi mereka akan memasuki masa puber / baligh.

Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya..Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih. Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia
memasuki masa puber / baligh”

– Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu. Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.

– Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh, gunakan the power of touch. Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala anak laki-laki yang belum baligh. Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka tidak akan mau kita sentuh.

Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.

– Sampaikan kepada anak kita : Tentang mimpi basah & mani

• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.

• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah, tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.

• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar /mandi junub, yaitu :

1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.

2. Cuci kedua tangan.

3. Berniat untuk bersuci

4. Berwudhu.

5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga seluruh anggota tubuh terkena air.

6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.

• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

 Tentang madzi

• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan
kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).

• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan, mencuci tangan lalu berwudhu.

• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.

• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita sampaikan dengan baik.

Selamat mencoba …

-Elly Risman- —

Ketika Anak Bertanya : Tentang Mati

Bagi anak – anak, dunia ini adalah hal yang totally new buat mereka. Setiap hal, setiap kata yang mereka lihat, dengar, raba, rasa selalu mengundang tanda – tanya lanjutan. Setidaknya itu yang terjadi pada anak – anak saya. Semalam, Selepas sholat isya di masjid, saya bertanya pada Salman. “sholat dimana mas?” bukan masjid Umar. (di tempat kami ada dua masjid, masjid Umar Bin Khattab dan Masjid Al Ikhlas). “O, masjid Al Ikhlas?”. Iya… uhm.. Ikhlas bin khattab? (mbanyol), bla… bla… kami berdiskusi. Hingga dia tiba pada pertanyaan,

Kenapa bin-nya ke bapaknya mi? nama ibunya dimana? kalau nama kakeknya? 🙂

My kiddo yang emang kritis ini kembali menanyakan “pertanyaan sulit” ke saya. Abie pun bilang di perjalanan pulang Salman juga menanyakan “pertanyaan sulit” ke beliau seperti “Kenapa sepeda motor setirnya persegi panjang, bukan bulat kaya mobil?” atau “kenapa roda belakang motor gak bisa belok?”. Atau si kecil Sufyan yang beberapa hari terakhir gemar mengulang pertanyaan ini “kenapa kita harus takut sama Allah umie?”, “kenapa kita harus bunuh ular kalau masuk rumah?”.

My babies is not baby anymore…

Tapi sekarang tulisan ini tidak sedang membahas “pertanyaan sulit” dari anak – anak yang tersebut diatas. Karena ada pertanyaan sulit dari anak lain (dan sudah ada alternative jawaban) yang menurut saya perlu tersimpan di blog ini sebagai pengingat. Ya… persiapan jikalau bocah2 saya menanyakan hal yang sama.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bercerita di socmed-nya bahwa tengah malam anaknya tetiba terbangun nangis sesenggukan dan bertanya pada bundanya tentang kematian. Saat itu sang Bunda menjawab sepanjang yang beliau tahu dan turut menangis. Tadi pagi, beliau share jawaban yang disarankan oleh seorang ustadzah setelah berkonsultasi mengenai hal ini. Jawabannya sangat menarik, jadi saya akan menyadurkannya disini.

Analagikan kematian seperti meminjamkan barang. Allah yang Maha pemberi, meminjamkan barangnya kepada kita. Dan jika tiba masanya, maka apabila si pemberi meminta kembali barang yang dipinjamkannya, kita wajib untuk mengembalikannya.

Kuburan yang terlihat sempit itu (2×1) sebenarnya luas. Seperti ketika kita naik pesawat. Dari atas semua terlihat kecilll sekali, tapi begitu kita turun ternyata rumah, orang2 dan jalan itu luas sekali kan. Nah… kuburan sama seperti itu, bisa luas sekali. Luas atau sempitnya kuburan kita tergantung pahala/ amalan yang kita kumpulkan. Kalau amal baik kita banyak, maka kuburan kita akan lapang.

Setiap orang tidak dapat mengelak dari kematian. Bahkan seorang nabi sekalipun. Dulu nabi musa perna menampar malaikat maut, namun Allah memberi tahu bahwa waktu yang dimiliki nabi musa adalah sebanyak jumlah bulu lembu jantan yang tertutup telapak tangannya. Setelah itu akan datang kematian…

Hati saya bergetar mendengar penjelasan ini. Kematian yang tak terelakkan, dan bagaimana kita menjelaskannya kepada anak sehingga tak nampak menyeramkan. Terima kasih sangat ada rekan yang mau share hal ini, dan berharap ini juga akan bermanfaat bagi parents yang lain.

Anak – anak itu masyaAllah ya… mereka sengaja dikirimkan Allah untuk mengingatkan kita sejauh mana kita mengenal dien kita sendiri. Terima kasih anak – anak… kami para orangtua jadi terpacu untuk terus belajar.

Perhiasan Emas

Minggu lalu saya antar mama ke toko perhiasan, biasaaa kalo deket2 lebaran gini nyonyah punya dua pilihan, pulang kampung atau dituker perhiasan!. Secara harga tiket pp buat pulang kampung bisa dibelikan emas. Hihihi. Karena habis lebaran tahun ini saya mau lairan, mama gak mau pulkam, kesian katanya nengok saya sendiri ngurus anak tiga. (eh, pas libur lebaran mudah2an dokternya standby yaaaa :-p). Walhasil, tahun ini mama milih stay di Pekanbaru, kompensasinya yaaa… si perhiasan emas itu. Tapi seringnya saya kepalak sih, soalnya bujet bli perhiasannya slalu lebih mihilll huhuhuhu. Tapi gpp lahhhh, ortu sendiri jugah.

Nah, pas kemarin beli perhiasan kokoh penjualnya ngasih info tentang macam2 perhiasan emas. Seneng juga sih karena ternyata kokohnya jujur, ples kami jadi tahu beberapa jenis perhiasan emas, dari beda karatnya, sampai warna dan bentuknya. Tiap daerah ternyata emasnya beda2 lohhh. Nah ini saya mau cerita serbaserbi perhiasan emas versi kokohnya itu yaaa…

Perhiasan emas (saya singkat PE aja yah) yang ada di pasaran itu dibagi berdasarkan karat dan persen. Ada yang 22 Karat dan 24 Karat. Nah, yang 22 Karat ini dibagi lagi menjadi 40%, 50%, 70%, 75%, 85% dan 91,6% dst. Ada juga loh perhiasan yang karatnya mencapai 18K.

PE 22K itu emas buatan pabrik, dibuat dalam bentuk masal dan persentasenya berbeda2. Semakin tinggi persentasenya maka warnanya akan semakin kuning, semakin kecil warnanya jadi semakin agak merah gitu. Persentase ini kayaknya beda di tiap daerah deh. Di Surabaya (kawasan Blauran) saya umumnya nemu PE 70-75% dan 85%. Kalau di toko emas dekat pasar2 kecil, biasanya dijual PE 22K 40%-50%. Orang Surabaya biasa menyebutnya “emas enom” (emas muda).

Harganya? jelas beda, bulan Oktober 2013 lalu, saya beli emas 75%, 22K di Surabaya harga berkisar Rp390/gram, sekarang sudah di angka 400-an. Kalau PE yang 85% (saya beli di Sumber Jaya kalau gak salah), waktu itu harganya sudah 460rb/ gram. PE yang umum dijual di Surabaya dan Jakarta adalah emas 22K 70-75%, karena setahu saya pabrik emas ada di Kawasan Gresik, yang notabene deket dengan Surabaya.

Nah, untuk mengetahui karat& persentase emas ini, biasanya (biasanya loh yaaa) di bagian emas itu ada cap yang menunjukkan kadar karat dan persentase. Di cincin dan gelang mama saya ada tulisan 708, yang berarti PE mama adalah 22K 70%. Selain itu, kadar dan karat bisa dilihat dari berubahnya warna perhiasan seiring berjalannya waktu. PE 22K 70%, setelah setahun akan berubah agak kemerahan, bukan kuning cerah lagi. Keliatan loh ini, cincin kawin saya dari 7 tahun lalu gak berubah warna (kadar 85%), sementara cincin mama saya udah mulai agak merah, padahal baru setahun dibeli.

Tapi kata kokohnya, cap itu bisa dibikin sendiri dan warna perhiasan bisa disepuh (isitilahnya di krom). Maka dia wanti2 agar beli emas di tempat yang udah dipercaya saja, tuh kan kokohnya baik banget. Dia jualan udah sejak dari jaman kakeknya loh, dan di Pekanbaru ini toko dia emang terkenal kok.

Itu cerita PE di Surabaya ya, kalau PE di daerah2 tertentu ada yang kadarnya 22K 91,6%. Jarang ada yang jual perhiasan ini kalau di Surabaya (CMIIW). Warnanya jelas beda dengan yang kadar 70%, dia lebih kuning dan warnanya akan tahan lama. Tapi di daerah2 yang punya/ jual emas 24K, biasanya banyak emas dengan kadar ini. Saat ini harga berkisar 510rb’an tergantung upah bikinnya (nanti saya cerita lagi tentang biaya upah ini).

Selain emas 22K, Pekanbaru, Sumbar, dan Makassar (baru tiga tempat ini saya tahunya) jual emas 24K. Emas 24K ini kadarnya tinggi, oleh karena itu ciri PE’nya gampang dikenali. Semakin tinggi karat, maka kontur barangnya semakin lembek karena campuran logam lainnya sedikit. Jadi kadang kita bisa nemu cincin yang lembek dan gampang peyok gt. Oleh karena itu perhiasan 24K biasanya dibuat dengan jumlah gram yang tinggi supaya lebih kokoh. Untuk 1 gelang biasa aja bisa sampai 17graman, harganya juga mihilll.

Emas 24K ini biasanya didesain sendiri oleh toko emas, kayak toko kokoh tadi. mereka bikin dan desain emasnya sendiri, jadi harga upahnya bisa lebih kecil. Tapi banyak juga toko PE yang jual emas langsung jadi.

Harga Emas

Cara menentukan harga PE juga berbeda di tiap daerah, kalau di Surabaya kan jelas ya ditulis besar2: emas 390/gram, harga itu sudah termasuk keuntungan/ upahnya ya. Kalau di Pekanbaru beda, kalau kita nanya berapa harga gelang misalnya, mereka akan klaklik kalkulator dan ngasih kita harga emas pergram+upah. Upah tiap perhiasan berbeda, tergantung kerumitan harga perhiasan itu. Kalau dijual lagi, harga yang akan dibayarkan ke kita adalah harga emas saat itu dikurangi harga upah. Kalau di Surabaya akan dikenakan harga jual saat itu kan ya?.

Cuman, saya belum pernah beli emas di Surabaya dan Pekanbaru dalam satu waktu, jadi saya gak bisa mbandingkan, mahalan mana harga emas 22K 70% di Surabaya dengan di Pekanbaru.

Kalau emas 24K beda lagi harganya, dia dhitung bukan pergram melainkan peremas setiap emas ini hitungannya per 2,5 gram.

Nah…sila dipilih2…kalau ada yang salah/ nambahin monggo dikoreksi yaaa… sudah tahukan tentang perhiasan emas? mudah2an bermanfaat yaaa

Junior Master Chef : Ahh, It’s Too Much

Siapa yang gak suka nonton Junior Master Chef (JMC)? saya suka!, terutama karna ngeliat meraka yang soo talented. Umur 8 – 13 tahun tapi kemampuan memasaknya jauuuhhh dibandingkan saya yang sering gosong bikin donut J. Pada awalnya, acara ini memberikan gambaran positifbahwa kriteria “sukses” pada anak tidak melulu pada capaian akademis saja, mereka bisa shinning di area yang jadi favoritnya. Rekan saya sampai bilang “ini settingan kan yaa?” saking tidak terpukaunya dengan kemampuan anak – anak tadi. Lucu, comel, berbakat dan menggemaskan, acara ini membuat saya “agak” mau duduk di depan televisi. Hihihi

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Memang benar, konsep JMC ini berbeda dengan kompetisi senada yang berasal dari Jepang. Kalau dulu di kompetisi ala Jepang, kita bisa benar2 fokus melihat skill kokinya, cara motong, cara memasak, menghias, trik menghadapi challenge. Sedangkan di JMC yang notabene merupakan acara adaptasi dari Amrik sono (CMIIW). JMC lebih menunjukkan pada pressure waktu, emosi peserta, konflik dll yang –menurut saya- drama banget. Jadi wajar kalau sampai rekan saya sempat sedikit ragu, apakah benar nih acara bukan settingan sama sekali. But anyhow, dengan menyadari bahwa konsep kedua acara ini berbeda, saya mulai mencoba “menikmati” JMC ini.

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Terlepas dari juri perempuan yang roknya slalu mini dan ngembang2 sampai kayak mau tersingkap :-p , dan fokus acara pada timer yang bergerak mundur. Kelucuan dan keluguan bocah2 di awal episode cukup mencuci mata. Bikin anak2 pun punya gambaran/ dorongan untuk mencoba memasak. Buibu di rumah pun bisa merubah kekhawatirannya tentang “mengenalkan” pisau pada adank2. Biasanya kan buibu akan jejeritan kalau liat anak kecilnya megang pisau. Tapi disini kita bisa belajar, dengan mengarahkan/ mengawasi anak waktu pakai pisau, hasilnya terkadang bisa unbelievable.

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Kenapa si kok saya bolak balik mengulang tentang eliminasi puput dan alain? Well, saya akan coba terangkan sedikit tentang episode ini. Di episode ini, para peserta disuruh membuat duplikasi dari makanan tertentu. Zidan sang pemenang sebelumnya mendapat kesempatan untuk menentukan siapa dari peserta yang akan mendapat/ tidak resep tentang masakan tersebut. Dan Zidan, tidak memilih puput sebagai peserta yang mendapatkan resep. Oh, dan di episode ini bergabung pula dua orang peserta dari black team yang sebelumnya sudah tereliminasi. Di akhir acara, puput dan alain tereliminasi, bahkan oleh revived black team. Can you see my point?

It is a competition! yeah I do agree. But I don’t think this manner wise enough to implemented in child competition.

At that moment, I was curious. Did Zidan really feel glad and happy seeing Puput –who he had choose not to have receipt- finally eliminated? Did he?

Oh tidak, saya tidak sedang menyalahkan peserta. Karena apa yang dilakukan Zidan sebenarnya bukan yang pertama dilakukan oleh peserta. Sebelum2nya, para peserta yang menang di tiap episode pun punya kesempatan yang sama untuk “memilih” siapa lawan yang ingin dijatuhkan. Namun di kesempatan itu sering, peserta yang dipilih malah lebih survive. Tereliminasinya puput membuat saya terhenyak hingga muncul tanda – tanya besar dalam benak saya. Apa yang ingin diajarkan pada anak2 tentang “upaya menjatuhkan lawan” dalam kompetisi ini? Berkompetisi berdasarkan kemampuan anak saja saya rasa cukup untuk menumbuhkan jiwa kompetitif mereka. Tetapi berkompetisi dengan ditambahi adegan “menjatuhkan lawan” saya rasa amat berlebihan.

Saya sedikit risau, anak2 ini akan belajar do everything asalkan lawannya menghilang. Ketimbang berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Dan para penonton anak2 pun belajar, bahwa it’s OK menjatuhkan lawan jika kita punya kesempatan mewujudkannya.

Taruhlah kita berbicara ttg “adaptasi acara”, but wait, bukankah kita punya budaya sendiri? Tak bisakah itu disesuaikan?

Atau tentang supaya acara lebih thrilling. But wait, bukankah ada cara yang harusnya lebih kreatif?

Semisal, bagi para pemenang dapat waktu lebih banyak, tutorial dari sang master lebih lengkap. atau mendapat beberapa keping petunjuk memasak yang lebih valuable di banding peserta lainnya.

Ah… mungkin mulai minggu besok saya akan berhenti menonton JMC. Saya risau anak2 saya akan mulai bertanya “kenapa anak itu tertawa saat temannya menangis mi? “ J.

Mimpi Buruk oh… Mimpi Buruk

 

Dari Jabir, ada seorang arab badui datang menemui Nabi lantas berkata, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi lantas bersabda kepada orang tersebut, “Janganlah kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah salah satu kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” [HR Muslim no 6063].

Siapa yang tak pernah mimpi buruk? saya rasa semua orang pernah mengalaminya kan. Bahkan dulu waktu saya masih kecil, mimpi semacam ini malah bisa jadi bahan taruhan. Apa ya dulu namanya? SDSB mungkin. Kalau dulu menceritakan mimpi buruk adalah hal yang biasa buat kami, bisa jadi bahan lucu2an, bahan tebak2an atau untuk sekedar menenangkan diri. Tapi semenjak tahu hadits itu… saya tak pernah lagi menceritakan mimpi buruk saya.

Kala itu saya melakukan saja, tanpa berusaha ingin tahu ada apa? mengapa? bagaimana kalau begini begitu?. Saya sami’na wa atho’na dulu, dan berhusbudhon bahwa Allah akan menjelaskan dengan caraNya sendiri. Awalnya sangat sulit sekali, selain efek dari mimpi buruk itu biasanya sering terbayang2 dari pagi hingga petang, pun rasa penasaran yang sangat masih menguasai diri.

Hingga suatu hari… Pada hari ketujuh saya memutuskan untuk mengenakan kerudung, teman saya menceritakan mimpi buruknya. Dan mimpi buruk itu adalah tentang saya yang melepaskan kerudung tak lama setelah mengenakannya. Ada detil cerita lainnya sih.. tapi ada baiknya saya simpan saja, karena inti dari hikmah yang bisa dipetik itu ada di sini saja.

MasyaAllah….. Saya seketika paham kenapa kita dilarang menceritakan mimpi buruk.

Bisakah anda bayangkan bagaimana perasaan saya ketika itu, terhadap diri saya, terhadap teman saya?.

Syukurlah kami tak mengizinkan setan menguasai saat itu, cukup memperbanyak istighfar. Perasaan itu membuat saya sekarang lebih santai menghadapi mimpi buruk, yang memang kadangkala masih datang menghampiri.

Curhat Buruk

Selain mimpi buruk saya juga menyadari satu hal lagi, curhat tentang hal yang buruk. Ada masa ketika saya sangat sebal dengan orang/ kejadian tertentu di kantor atau disekitar saya, maka serta merta saat itu juga saya ingin menuliskannya panjang lebar di blog. Terutama kejadian yang membuat hati saya pedih dan “lumayan” membenci orang. hihihi. Seperti dimaki atasan, dianggap bodoh, disakiti kolega dst. Tapi ketika saya berusaha menuliskannya di komputer, dan tepat di paragraf kedua tulisan itu selalu menggantung. Ujung2nya saya tak jadi menuliskannya dan menghapus file tersebut.

Pernah dulu sewaktu saya masih SD/ SMP punya buku diary. Setelah agak lama tidak menulis, akhirnya saya menemukannya kembali di antara tumpukan buku. Di antara tulisan itu saya menemukan curhat yang penuh amarah, atau ketidaksukaan atas seseorang. Aih… membacanya saja membuat saya tidak nyaman. Untung diary itu terkunci, bisa dibayangkan jikalau ditemukan orang lain? Lantas saya membakar diary itu tak bersisa, berharap curhat buruk yang pernah saya tulis pun terbakar dalam api.

Sedikit demi sedikit saya menjadi paham, ada beberapa hal yang memang tak perlu diceritakan. Terlebih jika itu adalah hal buruk yang menyangkut orang lain dan jika tatarannya adalah masalah “perasaan” saja. Karena sungguh, hati ini akan terbolak – balik. Saat ini bisa jadi kita membenci seseorang, besok kita baru menyadari betapa konyolnya hal itu.

Kelak, jika anak – anak sudah bisa menuliskan perasaannya. Saya akan mengajarkan mereka untuk menulis tentang perasaan mereka yang sedang bahagia saja. Agar ketika mereka membuka diary, maka hanya kenangan indahlah yang akan memenuhi pikiran mereka.

Ah… semoga saya juga istiqomah. ^^

Hujan

Saya bukan penggila hujan, yang suka hujan2an hingga bahkan perlu menahbiskan kesukaan dengan cara menjadikan hujan sebagai nama blog/ nickname saya. Dulu sekali, saat saya tinggal di Surabaya yang rumahnya mepet2 dan jalannya bersemen. Mencium bau tanah yang pertama kali disiram hujan adalah hal langka. Saya suka bau tanah itu, jadi kalau saya bisa menciumnya, duh girang bukan kepalang. Tapi dulu, hujan yang terlalu lama pun akan membuat saya gamang karena bertahun2 hidup dalam banjir.

Hubungan saya dan hujan tidak pernah mencapai titik ekstrim tertentu, ada di area rata – rata. Tidak seperti kolega yang bisa suntuk seharian karena cucian yang baru dijemurnya tadi pagi basah terguyur hujan. Atau layaknya kolega yang lain yang berharap hujan deras hingga banjir agar dia bisa gegoleran di rumah.

Sejak tinggal di Pekanbaru yang musim kemaraunya bisa lebih panjang daripada musim hujan. Efek dari kemarau sangat luar biasa. Sumur (cincin) bisa kering dan penuh lumpur, sehingga kebutuhan mandi cuci akan sangat terganggu. Hal paling krusial adalah.. kemarau memicu kebakaran gambut dan orang2 bego untuk membakar lahan.

Jadi kini, ketika saya sadar bahwa terkadang hanya dengan hujan yang diturunkan Allah-lah sumur kami bisa penuh, udara kami bisa lebih bersih dari asap kebakaran hutan. Maka hati saya bisa sangat teduh hanya dengan mendengar rintik hujan.

Sungguh, kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup kami terkait hujan ini (terutama asap kebakaran hutan), kembali mengingatkan saya untuk merespon hujan dengan cara yang disyariatkanNya. Bahwa Dia telah mengajarkan bagaimana cara memperlakukan hujan dengan baik, memohon hanya untuk yang baik, dan menyikapi dengan cara yang baik. “Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).(QS. An. Nahl : 65)

Pekanbaru, 6 April 2014

#Tafakkur saat malam kembali basah terguyur hujan… Alhamdulillah