After EI8HT

“ntr sore qt beli testpack ya say, adek penasaran. Adek pgn, klo rejeki Qt sujud syukur bareng, klo gk, qt nangis bareng. Ya?”

Suamiku me-reply

“iya”

Empat hari terakhir masku stay di rumah petak kami yang baru, cuti. Nemenin pindahan sekaligus daftar kuliah di pekanbaru. Sudah empat hari pula my period was late. Pengalaman “telat” pertama yang berarti “aku stres berlebihan”, tak urung membuatku tak banyak berharap pada tes kali ini. Jujur, kali ini unsur tawwakal lebih besar.

Pulang kantor (gee…nowadays, I felt so tired with my peak officehour), aku tergeletak di kamar. Setelah sholat maghrib dan isya, aku tertidur pulas. Usaha mas membangunkanku gagal, alhasil kami urung membeli testpac. Yup, kami yang urung, namun tidak begitu dg masku. Sehabis sholat isya’ di masjid, (ternyata) dia langsung menuju apotik dan membli sebuah testpack, membaca petunjuk pemakaiannya berulang-ulang, dan berniat membangunkanku pagi-pagi seperti biasanya, sebelum shubuh.

Di sepertiga malam terakhir, mas membangunkanku “dek, katanya mau tes?”

Sambil ngucek-ngucek mata aku menjawab “tes apa mas?” (rupanya aku amnesia).

“ya test pack, dek”perlahan dia menarikku ke kamar mandi.

Setengah hidup aku memulai test ke sekian kalinya dalam hidupku, tes kedelapan, setelah delapan bulan pernikahan kami.

Dia berseru, “dua dek, garisnya dua”

Aku merem, “bohong ya?”

Dia makin seru teriaknya, “enggak dek, beneran dua”.

Aku mengangkat kertas tes dan memelototinya…

Lalu tersenyum, senyum pertama terhadap kertas itu.

Kami berpandangan….

Mengambil wudhu dan bergegas menunaikan sholat tahajud berjama’ah.

“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Ada senyum yang berbeda pagi itu,… ada desir yang berirama dalam dada kami, sujud kami makin dalam, doa kami makin panjang. Pagi itu…. jum’at pagi terindah dalam hidup kami.

Alhamdulillah Ya Allah, POSITIP!

Sabtunya kami ke dokter, dokter lili mengoleskan krim diperutku, menggerak-gerakkan alat bermerek Doppler disana, iya…. ada warna hitam kecil mungil dalam perutku. Hidup dalam kandunganku…kehidupan kecil kami yang baru.

 

 

 

Iklan

Menunggumu…….

Hal jamak yang akan ditanyakan kepada pasangan muda yang baru menikah di tahun pertama mereka adalah

 “sudah isi belum?”,

“sudah berapa bulan?”,

“sudah telat?”.

Kalo agak apes pertanyaannya bisa lebih menghujam,

“Kok belum hamil?”,

“sengaja menunda ya?”,

Kalo apesnya kuadrat, bisa muncul sebuah rekam tanya-jawab yang pastinya akan membuat kita mual2 seperti layaknya orang hamil.

“kok belum hamil?”

“ya…kami kan pisahan, ketemunya aja gak mesti sebulan sekali, itupun cuma tiga hari, nyocokin waktunya pun susah”

“waktu bulan madu kan ketemuan?, berapa lama bulan madunya?”

“dua minggu.”

“nah tuh bisa kan?!?!”

“………..”

(dalam hati aku cuma bergumam, seandenya hamil itu dijual ditoko, niscaya aku akan memborongnya!!!!)

 

–tapi tidak ada toko yang menjual kehamilan……

 

Dan aku memulai aktivitas rutinku.

Tiap bulan aku akan menghitung masa suburku, dan membuat jadwal pertemuan dengan suami.

Tiap bulan aku akan mengecek kondisi tubuh, melihat2 apakah ada tanda2 haid ato tidak, lalu mulai tersedan jika “hari” itu datang.

Tiap saat aku search di internet mengenai tiga tema penting “kehamilan, kesuburan, dan bagaimana cara2 agar bisa segera punya anak”

tiap pagi aku menjejalkan termometer digital ke mulutku dan mencatat celciusnya di”buku rencana hamilku” untuk sekedar mengetahui fluktuasi masa subur yang (mungkin) bisa diprediksikan.

Aku kirimkan puluhan sms ke temanku yang calon dokter untuk konsultasi masalah ini.

Aku minum dua sendok madu di pagi dan malam hari.

Aku makan ikan

Aku makan telur

Aku makan segala jenis sayuran yang dulu pastinya akan kumuntahkan.

Aku Olahraga

Aku melahap buku2 islam tentang mendidik anak (yang tak kunjung aku selesaikan)

Aku berdoa…..

Aku minta agar didoakan oleh anak yatim

Aku minta agar didoakan ibuku

Aku minta agar didoakan teman2ku

Aku minta agar didoakan orang2 yang menanyai kehamilanku

Dan malam ini aku sedang menjadwalkan diri untuk “do something medical check-up”.