[DAM] Tidak Pipis Sembarangan

Tadi sore ayah membawa oleh – oleh buat Sarah, satu stel baju renang yang baru. Baju renang itu indah sekali, berwarna pink dengan taburan bunga di bagian roknya. Kerudungnya juga berwarna pink, senada dengan celana panjang dan lengan baju renangnya. Ayah bilang, baju renang itu hadiah buat Sarah yang naik kelas II SD. Ah… senangnya hati Sarah..

Hari Minggu nanti ayah akan mengajak Sarah ke waterboom, Ituloh, komplek wisata air di dekat rumah yang besar sekali. Ada kolam renang dewasa, kolam renang anak – anak, perosotan, air mancur, air terjun buatan dan mainan  – mainan air lainnya. Ah… senangnya hati Sarah.

Sabtu malam Sarah sudah menyiapkan perlengkapan renang yang akan dibawa besok pagi. Baju renang pink yang sudah dicuci Ibu, balon renang, peralatan mandi, baju ganti dan tas plastik untuk baju basah nanti semua sudah dimasukkan kedalam tas. Tentu saja untuk menyiapkan itu, Sarah dibantu Ibu. Setelah semuanya siap, Sarah bergegas tidur, agar besok pagi tidak bangun kesiangan. Ah… senangnya hati Sarah.

Sarah, ayah dan Ibu berangkat ke waterboom naik sepeda motor bersama. Sebelum masuk, ayah beli dulu tiket masuknya. Harga tiket masuk untuk orang dewasa 15 ribu, kalau untuk anak – anak sebesar Sarah, cukup bayar 10 ribu. Ayah langsung mengajak Sarah dan Ibu pergi ke area kolam renang anak – anak. Eits..tapi sebelum masuk ke kolam renang, Ayah dan Sarah senam ringan dulu, “biar tidak kram” kata Ayah. Ibu sih tidak ikut berenang tapi duduk – duduk di pinggir kolam renang sambil jaga barang – barang. Setelah senam ringan, Sarah siap nyebur ke kolam. Ah… senangnya hati Sarah.

Ayah mengajari Sarah gerakan dasar renang, seperti cara menggerak – gerakkan kaki, tangan dan menahan nafas beberapa detik. Ternyata susah loh berenang itu, sedikit – sedikit tenggelam. Salah menggerakkan tangan, tenggelam. Salah menggerakkan kaki, tenggelam. Aih… susah sekali. Tapi Sarah tidak menyerah, setelah satu jam belajar, Sarah sudah bisa sedikit mengambang. Hihihi sedikit sih, tapi Alhamdulillah sudah bisa mengambang. Toss dulu ah sama Ayah. Ah… senangnya hati Sarah.

Setelah capek belajar renang, Sarah minta diajak pergi ke arena perosotan dan air terjun. Ah… senangnya hati Sarah. meluncur sama ayah pakai ban, hujan – hujanan di air terjun, dan mengapung pakai double ban yang disewakan di kolam renang. Ah… senangnya hati Sarah.

ambil dari sini

ambil dari sini

Tapi…. kelamaan di kolam renang bikin Sarah kedinginan. Sarah tiba – tiba pengen pipis dan rasanya tidak tahan lagi padahal toilet jaraknya jauh. Sarah pun segera bilang ke ayah,

“Ayah, Sarah kebelet pipis” Sarah meringis

“Oh, ayo kita ke toilet” kata Ayah

“Sarah pipis di kolam renang aja ya yah?” rajuk Sarah yang tidak kuat menahan pipis

hush tidak boleh itu” Ayah berkata tegas.

“kenapa yah? teman – teman Sarah sering kok pipis di kolam, katanya kan nanti pipisnya hanyut” Sarah beralasan,

“Sarah, air kencing itu kan jorok. Kalau Sarah pipis di kolam lalu air kolamnya keminum orang – orang disekitar Sarah, bagaimana?” tanya Ayah.

“eh, iya yah?” Sarah garuk – garuk, sejenak lupa sama rasa ingin pipisnya.

“sudah ayo kita ke toilet dulu, nanti Ayah jelaskan lagi” ajak Ayah.

Ayah dan Sarah pun bergegas ke toilet yang paling dekat. Sekeluarnya dari toilet, Sarah segera menghambur ke Ayah yang sedang menunggu di bangku dekat toilet.

“Ayo yah, jelaskan lagi” Sarah bertanya antusias.

“Nah, pertanyaan yang tadi sudah jelas kan maksudnya?” pancing ayah

“iya juga sih yah. kasihan orang – orang disekitar Sarah ya?” jawab Sarah

“lagipula, kita ini muslim Sarah. Rasulullah melarang kita untuk kencing di tempat – tempat tertentu. Perbuatan itu sangat dibenci loh, Saking dibencinya, orang yang pipis sembarangan dijuluki dengan al la’anain! yaitu orang yang dilaknat manusia. Serem kan?” jelas Ayah.’

“oh ya? terus.. terus yah? dilarang kencing di mana saja?” Sarah mulai tak sabar

“di tempat bernaung manusia, di jalan umum dan di tempat air tergenang. Kita tidak boleh kencing di pohon yang rindang, jalan – jalan yang dilewati manusia, kolam renang, sungai yang tidak mengalir dan lain – lain. ” jelas ayah.

“Tahu nggak apa hikmah Allah melarang kita?” tanya Ayah

“nggak tahu yah” Sarah menggeleng pelan

“karena kalau kita melakukan hal itu, akan banyak mudharat bagi manusia yang lain Sarah. tempat – tempat manusia berteduh jadi tidak nyaman karena bau pesing,  jalan umum jadi kotor, dan orang yang berenang di kolam renang jadi was – was. Itu salah satu bukti kalau Islam itu rahmatan lil alamin Sarah. jika kita benar – benar menjalankan perintahNya, maka manusia akan merasa nyaman dengan kita. Kalau berenang dengan muslim mereka selalu senang karena yakin kita tidak akan berbuat buruk dengan kencing di air kolam. Kalau mereka berteduh di wilayah kita, mereka mudah menemukan pohon – pohan yang nyaman digunakan untuk berteduh. Mereka pun akan melihat jalan – jalan yang bersih bebas kotoran dan bebas bau pesing” jelas Ayah panjang lebar.

“oh.. gitu ya yah?. sekarang Sarah mengerti, besok Sarah jelasin ke teman – teman Sarah deh biar mereka ndak pipis sembarangan.” Sarah mengangguk mantap.

“nah gitu dong, anak ayah yang shaliha…” Ayah tersenyum sambil merangkul Sarah.

“sekarang mau renang lagi atau kita pulang?” tanya ayah

“pulang saja yah, Sarah capek dan laperrrr. hehehe” Sarah nyengir sambil menepuk – nepuk perutnya. Ayahpun tertawa dan mengajak Sarah untuk menemui Ibu dan bergegas pulang.

Saat perjalanan pulang mereka mampir ke kedai makan di dekat waterboom. Ayah berjanji bulan depan akan mengajak Sarah ke waterboom lagi untuk belajar berenang. Ah… senangnya hati Sarah

Inspirasi :

Hati-hatilah dengan al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia)!” Para sahabat bertanya, “Siapa itu al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia), wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang buang hajat di jalan dan tempat bernaungnya manusia.(HR. Muslim no. 269.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.”(HR. Muslim no. 281.)

[Dongeng Anak Muslim] : Pak Dablo Yang Pelit

Di kampung rambutan, ada seorang kaya raya bernama Pak Dablo. Pak Dablo adalah keturunan ketujuh keluarga Slamet yang kaya raya. Pak Dablo mewarisi usaha perkebunan buah – buahan keluarga yang luasnya berhektar – hektar. Jarak antara kebun dengan rumah Pak Dablo hanya tiga puluh menit berjalan kaki.

Pak Dablo perutnya gendut, berkumis lebat dan senang memakai sarung kotak – kotak. Tidak seperti ayah, dan kakek – kakek buyutnya yang sangat dermawan, Pak Dablo terkenal pelit. Pak Dablo bilang, kalau sering membagi – bagikan buah kepada tetangga dan teman – teman, nanti buahnya akan cepat habis dan dia jadi rugi. Oleh karena itu, Pak Dablo tidak mau membagi buah dari kebun kepada orang disekitarnya.

Istrinya yang shalihah pernah menasehati pak Dablo, tapi dia bersikukuh tidak mau bersedekah. Bahkan Pak Dablo membangun tembok tinggi besar di sekeliling kebun agar tidak ada yang mengambil buah – buahan dari kebunnya. Setiap pagi hingga siang, Pak Dablo akan menengok dan mengawasi kebunnya dengan teliti. Sore hari, ketika para pekerja pulang, harus diperiksa dulu oleh Pak Dablo agar tidak ada yang membawa pulang buah – buahan.

Pohon – pohon di kebun Pak Dablo sudah tinggi, buah – buahannya terlihat ranum. Besok pagi adalah waktu panen raya, ada buah rambutan, durian, mangga, kelengkeng, dan salak yang siap dipanen. Pak Dablo membayangkan besok pagi dia akan untung besar. Seperti kebiasaan tahun – tahun sebelumnya, sore tadi Pak Dablo mengunci erat – erat gerbang kebun agar tak ada penduduk yang masuk mencuri buah – buah yang siap dipanen itu.

Malam itu Pak Dablo tidur nyenyak sekali. Dia bermimpi, besok pagi keranjang – keranjang buah yang penuh akan dinaikkan ke atas truk, dijual ke pasar dan menghasilkan uang yang banyak.

Sementara itu, diluar hujan turun sangat deras. Langit gelap pekat, dan suara petir menggelegar bersahut – sahutan. Orang – orang kampung rambutan bergegas masuk ke rumah masing – masing, dan tak ada yang berani keluar rumah.

dhuar…. dhuar… tar…..  suara petir membuat siapapun bergidik mendengarnya.

Bu Dablo yang ketakutan berusaha membangunkan suaminya, tapi Pak Dablo yang tidur pulas tak bergeming, dia masih bermimpi sedang memetiki buah – buahan di kebun.

Pagi harinya Pak Dablo bangun dalam keadaan segar, bergegas mandi dan memakai baju terbaiknya. Dia mengajak istri dan mengumpulkan semua pegawainya. Meminta mereka menyiapkan keranjang dan truk untuk mengangkut buah – buahan. Pak Dablo segera naik ke truk dan melaju menuju kebun yang dicintainya.
Sesampainya di kebun, Pak Dablo membuka gerbang dan matanya terbelalak karena kaget…..di hadapannya terhampar pemandangan yang mengerikan. Seluruh pohon di kebunnya hangus terbakar, pohon rambutan, durian, mangga, kelengkeng, dan salak semuanya tumbang dan menghitam. Rupanya petir yang bertalu – talu tadi malam menghanguskan kebun Pak Dablo. Pak Dablo tak percaya, badannya lemas dan akhirnya terkulai di tanah.

“Habis… semua habis… semua habis” isak Pak Dablo, badannya berguncang dan tangisnya semakin kencang.

Bu Dablo mengusap punggung suaminya, menenangkan suaminya yang menangis seperti anak kecil

“Sabar pak… sabar….”bujuk istrinya

————–

Nah adik – adik… kita harus tahu bahwa menjadi orang pelit itu tidak baik. Bersedekah tidak akan mengurangi harta kita kok. Bersedekah justru akan menambah rejeki kita. Malah dengan bersedekah akan menambah kecintaan Allah kepada kita. Ingat ya, di setiap harta kita ada hak fakir miskin, jadi bersedekah itu sebenarnya menunaikan hak fakir miskin atas harta kita. Oke? jangan pelit ya…?

Salam.

Inspirasi : QS. al-Qalam (68: 17-33).

“Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, ‘Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.’ Maka, pergilah mereka saling berbisik-bisik. ‘Pada hari ini, janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.’ Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya). Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?’ Mereka mengucapkan, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.’ Lalu, sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.’ Mudah-mudahan, Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dan Tuhan kita. Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.”