Koskaki Sufyan (part 2)

Melanjutkan cerita tentang koskaki Sufyan dipostingan sebelumnya. Si Emak sudah pulang kerumah, setelah melakukan “pemanasan” sebentar, segeralah Sufyan diajak ngobrol. Ini cerita Sufyan (setelah disambung-sambungkan, karena Sufyan ceritanya sepotong-sepotong).

S2: Sufyan sudah nawarin, tapi gurunya ndak mau.

U : emang Sufyan bilangnya gimana?

S2 : Buguru, Sufyan nawarin kaos kaki, tapi pakai uang J. Trus bu guru bilang nanti. Tapi ndak dibeli.

U : Sufyan nawarinnya kapan? Waktu baris?

S2 : Sebelum baris.

U : gpp lah, yang penting Sufyan kan usaha.

S2 : tapi bu gurunya bohong

U : Lo kok bohong?

S2 : bilangnya nanti, tapi habis itu ndak dibeli

U : mungkin bugurunya ndak punya uang

S2 : punya kok

U : maksud bu guru itu ndak beli sufyan, tapi supaya sufyan ndak sedih, bu gurunya bilang nanti

Lalu kami ngobrol ringan supaya Sufyan ndak kecewa dan ndak kapok belajar jualan lagi.

Dowenggg weenggggg. Kalau kita orang dewasa kan paham ya, “nanti” itu adalah cara menolak yang halus. Tetapi buat anak2, jawaban abstrak seperti itu sangat membingungkan. Pola pikir anak-anak yang hitam dan putih butuh jawaban riil ternyata yaaa. Pelajaran banget nih buat saya sebagai emaknya. Jangan-jangan anak2 kadang ndak menghiraukan ortunya bukan karena mereka membangkang, tapi karena mereka ndak paham dengan pilihan kata/ bahasa dan pola pikir orang dewasa. Sigh…..

Semoga kita terus bersemangat memperbaiki diri dan terus belajar. Aamiin

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s