Junior Master Chef : Ahh, It’s Too Much

Siapa yang gak suka nonton Junior Master Chef (JMC)? saya suka!, terutama karna ngeliat meraka yang soo talented. Umur 8 – 13 tahun tapi kemampuan memasaknya jauuuhhh dibandingkan saya yang sering gosong bikin donut J. Pada awalnya, acara ini memberikan gambaran positifbahwa kriteria “sukses” pada anak tidak melulu pada capaian akademis saja, mereka bisa shinning di area yang jadi favoritnya. Rekan saya sampai bilang “ini settingan kan yaa?” saking tidak terpukaunya dengan kemampuan anak – anak tadi. Lucu, comel, berbakat dan menggemaskan, acara ini membuat saya “agak” mau duduk di depan televisi. Hihihi

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Memang benar, konsep JMC ini berbeda dengan kompetisi senada yang berasal dari Jepang. Kalau dulu di kompetisi ala Jepang, kita bisa benar2 fokus melihat skill kokinya, cara motong, cara memasak, menghias, trik menghadapi challenge. Sedangkan di JMC yang notabene merupakan acara adaptasi dari Amrik sono (CMIIW). JMC lebih menunjukkan pada pressure waktu, emosi peserta, konflik dll yang –menurut saya- drama banget. Jadi wajar kalau sampai rekan saya sempat sedikit ragu, apakah benar nih acara bukan settingan sama sekali. But anyhow, dengan menyadari bahwa konsep kedua acara ini berbeda, saya mulai mencoba “menikmati” JMC ini.

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Terlepas dari juri perempuan yang roknya slalu mini dan ngembang2 sampai kayak mau tersingkap :-p , dan fokus acara pada timer yang bergerak mundur. Kelucuan dan keluguan bocah2 di awal episode cukup mencuci mata. Bikin anak2 pun punya gambaran/ dorongan untuk mencoba memasak. Buibu di rumah pun bisa merubah kekhawatirannya tentang “mengenalkan” pisau pada adank2. Biasanya kan buibu akan jejeritan kalau liat anak kecilnya megang pisau. Tapi disini kita bisa belajar, dengan mengarahkan/ mengawasi anak waktu pakai pisau, hasilnya terkadang bisa unbelievable.

Sampai…. puput dan alain tereliminasi…

Kenapa si kok saya bolak balik mengulang tentang eliminasi puput dan alain? Well, saya akan coba terangkan sedikit tentang episode ini. Di episode ini, para peserta disuruh membuat duplikasi dari makanan tertentu. Zidan sang pemenang sebelumnya mendapat kesempatan untuk menentukan siapa dari peserta yang akan mendapat/ tidak resep tentang masakan tersebut. Dan Zidan, tidak memilih puput sebagai peserta yang mendapatkan resep. Oh, dan di episode ini bergabung pula dua orang peserta dari black team yang sebelumnya sudah tereliminasi. Di akhir acara, puput dan alain tereliminasi, bahkan oleh revived black team. Can you see my point?

It is a competition! yeah I do agree. But I don’t think this manner wise enough to implemented in child competition.

At that moment, I was curious. Did Zidan really feel glad and happy seeing Puput –who he had choose not to have receipt- finally eliminated? Did he?

Oh tidak, saya tidak sedang menyalahkan peserta. Karena apa yang dilakukan Zidan sebenarnya bukan yang pertama dilakukan oleh peserta. Sebelum2nya, para peserta yang menang di tiap episode pun punya kesempatan yang sama untuk “memilih” siapa lawan yang ingin dijatuhkan. Namun di kesempatan itu sering, peserta yang dipilih malah lebih survive. Tereliminasinya puput membuat saya terhenyak hingga muncul tanda – tanya besar dalam benak saya. Apa yang ingin diajarkan pada anak2 tentang “upaya menjatuhkan lawan” dalam kompetisi ini? Berkompetisi berdasarkan kemampuan anak saja saya rasa cukup untuk menumbuhkan jiwa kompetitif mereka. Tetapi berkompetisi dengan ditambahi adegan “menjatuhkan lawan” saya rasa amat berlebihan.

Saya sedikit risau, anak2 ini akan belajar do everything asalkan lawannya menghilang. Ketimbang berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Dan para penonton anak2 pun belajar, bahwa it’s OK menjatuhkan lawan jika kita punya kesempatan mewujudkannya.

Taruhlah kita berbicara ttg “adaptasi acara”, but wait, bukankah kita punya budaya sendiri? Tak bisakah itu disesuaikan?

Atau tentang supaya acara lebih thrilling. But wait, bukankah ada cara yang harusnya lebih kreatif?

Semisal, bagi para pemenang dapat waktu lebih banyak, tutorial dari sang master lebih lengkap. atau mendapat beberapa keping petunjuk memasak yang lebih valuable di banding peserta lainnya.

Ah… mungkin mulai minggu besok saya akan berhenti menonton JMC. Saya risau anak2 saya akan mulai bertanya “kenapa anak itu tertawa saat temannya menangis mi? “ J.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s