Hujan

Saya bukan penggila hujan, yang suka hujan2an hingga bahkan perlu menahbiskan kesukaan dengan cara menjadikan hujan sebagai nama blog/ nickname saya. Dulu sekali, saat saya tinggal di Surabaya yang rumahnya mepet2 dan jalannya bersemen. Mencium bau tanah yang pertama kali disiram hujan adalah hal langka. Saya suka bau tanah itu, jadi kalau saya bisa menciumnya, duh girang bukan kepalang. Tapi dulu, hujan yang terlalu lama pun akan membuat saya gamang karena bertahun2 hidup dalam banjir.

Hubungan saya dan hujan tidak pernah mencapai titik ekstrim tertentu, ada di area rata – rata. Tidak seperti kolega yang bisa suntuk seharian karena cucian yang baru dijemurnya tadi pagi basah terguyur hujan. Atau layaknya kolega yang lain yang berharap hujan deras hingga banjir agar dia bisa gegoleran di rumah.

Sejak tinggal di Pekanbaru yang musim kemaraunya bisa lebih panjang daripada musim hujan. Efek dari kemarau sangat luar biasa. Sumur (cincin) bisa kering dan penuh lumpur, sehingga kebutuhan mandi cuci akan sangat terganggu. Hal paling krusial adalah.. kemarau memicu kebakaran gambut dan orang2 bego untuk membakar lahan.

Jadi kini, ketika saya sadar bahwa terkadang hanya dengan hujan yang diturunkan Allah-lah sumur kami bisa penuh, udara kami bisa lebih bersih dari asap kebakaran hutan. Maka hati saya bisa sangat teduh hanya dengan mendengar rintik hujan.

Sungguh, kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup kami terkait hujan ini (terutama asap kebakaran hutan), kembali mengingatkan saya untuk merespon hujan dengan cara yang disyariatkanNya. Bahwa Dia telah mengajarkan bagaimana cara memperlakukan hujan dengan baik, memohon hanya untuk yang baik, dan menyikapi dengan cara yang baik. “Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).(QS. An. Nahl : 65)

Pekanbaru, 6 April 2014

#Tafakkur saat malam kembali basah terguyur hujan… Alhamdulillah

Iklan

2 thoughts on “Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s