BICARA MATI : PAMRIH

Minggu lalu saya turut menyolatkan jenazah ibunda teman saya. Usianya pertengahan enampuluh, sempat dirawat dirumah sakit selama empat hari dikarenakan sesak nafas terkena asap yang menghebat beberapa waktu yang lalu. Setelah membaik, blio dipulangkan, namun takdir berkata lain, tak lama kemudian blio wafat karena terkena serangan jantung. Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun…..

Teman saya berusia tigapuluhan, mempunyai satu orang anak. Setelah menikah selama kuranglebih satusetengahtahun, suaminya sakit keras kemudian berpulang ke Rahmatullah. Almarhum meninggalkan seorang anak berusia 4 bulan yang kini –ketika neneknya meninggal- dia berusia 9 tahun.

Sudah jadi kebiasaan di tempat kami, takziah dimepetkan dengan waktu penguburan jenazah. agar kami punya kesempatan untuk menyolatkan. Mungkin beras dan ucapan belangsungkawa akan membantu keluarga almarhum. Tapi sesungguhnya, yang dibutuhkan oleh almarhum untuk terakhir kalinya adalah kehadiran kami untuk menyolatkannya.

Saat melakukan sholat jenazah, saya berpikir….

Akankah anak2 saya tahu cara menyolatkan jenazah? Akankah anak2 saya tahu cara menyelenggarakan pengurusan jenazah? mulai dari awal hingga penguburannya, hingga setelah2nya. Tahukah mereka bahwa meratap tak diperkenankan? Tahukah mereka bahwa kami tak membutuhkan selametan, namun lebih pada amal baik mereka? Ah… akan tahukan mereka? cara menuntun kami agar meninggal dalam keaadaan khusnul khotimah? Agar tak mencari paranormal-dengan dalih pengobatan alternatif- saat penyakit kami memburuk, tahukah mereka bagaimana menuntun kami mengucapkan kalimat “laaa ilaha ilallah” di akhir nafas kami?

Sering bukan, kita sebagai keluarga yang ditinggalkan menyerahkan prosesi pengurusan jenazah kepada modin (ini sebutan di kampung saya), alih2 menyelenggarakan sendiri.

Sering, bukan kita sendiri yang memimpin sholat, memandikan, menggotong hingga menguburkan. Sebagian dikarenakan kita sedang terlalu berduka, dan sebagian yang lain dikarenakan kurangnya ilmu dalam menyelenggarakan pengurusan jenazah.

Sering, dikarenakan cinta yang kuat pada orangtua, anak2–meskipun berpendidikan tinggi- akhirnya jatuh ke paranormal demi melakukan apapun untuk menyembuhkan orangtuanya.

Sering, alih2 menuntun bacaan talbiyah di akhir hayat orangtuanya, malah disibukkan dengan derai airmata. Sering, kita meratap, memukul2 dada kita saat kehilangan orangtua.

Sering……

Dan tetiba saya menyadari, bahwa ada setitik “pamrih” menelisik kalbu saya ketika berambisi membesarkan anak2 agar menjadi pribadi yang shalih. Keshalihan nantinya memang akan menjadi benteng mereka dalam bersikap, bertindak, dan berbuat apapun di muka bumi ini – hingga bekal di akherat nanti-.

Namun ternyata, saya dan suami juga mempunyai kepentingan besar dalam terbentuknya pribadi yang shalih ini. Kami butuh mereka shalih, agar mereka bisa membantu menghantarkan kami kegerbang khusnul khatimah. Saat tubuh ini melemah, saat kesadaran berkurang, dan saat nyawa tak lagi dikandung badan.

Ya Rabbi… karuniakanlah kepada kami anak2 yang shalih.

Iklan

One thought on “BICARA MATI : PAMRIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s