#Melawan Asap

are we gonna die here?

Pertanyaan itu benar2 saya lontarkan pada suami saya. Saat rebah di pembaringan, dalam satu2nya kamar di rumah ini yang masih cukup steril dari asap karena terbantu AC. Dalam ruangan 3×4 itulah, kami berlima dalam dua hari terakhir krunthelan (berkumpul) untuk sekedar bernafas karena asap sudah masuk kedalam rumah berventilasi kami.

dari lt2 kantor

Ini hari kedua kepekatan asap mencapai puncaknya, kandungan oksigen di udara tinggal 1%. Dan sudah sebulan lebih, sejak asap mulai menyebar layaknya wabah di seluruh penjuru provinsi. Double masker pun tak sanggup menahan gempuran asap, terengah2 kami bernafas, bahkan dalam tidurpun, saya –yang sedang hamil 4 bulan- terpaksa harus mengenakan masker.

Tergugu saya menanyakan pada abie kemungkinan terburuk dari kondisi ini. Asap semakin pekat, hujan tak kunjung turun, Gubernur menyerah dan menghilang entah kemana. Isya tadi, rombongan terakhir rekan kantor yang eksodus melalui medan sudah berangkat. Lamat –lamat di antara kumandang adzan saya berkata lirih kepadanya, “tolong doakan kami, doakan kami baik – baik saja”.

Sudah sejak beberapa hari yang lalu bandara Sultan Syarif Kasim ditutup, tak ada pesawat yang datang dan pergi. Bandara di Padang dan Jambi pun menyusul ditutup, karena jarak pandang tidak memungkinkan pesawat untuk landing. Terpaksa hanya melalui medan-lah, para pengungsi yang hendak eksodus dapat menuju. Dari medan, penerbangan dapat dilanjutkan ke berbagai tempat. Masalahnya, kami tak punya keluarga di Medan, pun Jakarta. Jadi jika kami harus benar2 mengungsi, itu berarti kami harus menempuh perjalanan darat ke Medan, lalu terbang ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Jogjakarta, lalu menempuh jalan darat lagi ke Purworejo. Sanggupkah kami?

Kondisi saya yang hamil, anak – anak yang masih kecil, utie yang berusia lebih dari setengah abad, sungguh tak memungkinkan kami untuk menempuh itu semua. Malam itu, hanya dzikir dan doa-lah yang kami hembuskan ke langit2 arsyi, menghiba, memohon, meminta kepada Dzat yang paling bisa diandalkan.

Malam itu pula kami sempat bertengkar kecil, bingung menentukan apakah bertahan atau mengungsi. Saya yang memang spontan, cenderung setuju untuk mengungsi. Namun suami yang penuh pertimbangan meyakinkan, bahwa kami harus bertahan mengingat kondisi kami semua, dan insyaAllah, akan ada kabar baik.

Cemas berlebihan sempat membuat kandungan saya kram beberapa saat. Pun tenggorokan yang kerap terasa nyeri, masih tersisa semenjak sholat istisqo tadi pagi. Ya.. sejak tak ada perkembangan berarti dari usaha pemadaman api, hampir seluruh penduduk di kota ini, berhari – hari melakukan sholat istisqo bergantian, sholat minta hujan. Setidaknya, kami masih dapat berusaha tanpa berpangku tangan.

Allahumma aghitsna..

Allahumma aghitsna…

Allahumma aghitsna…

(Ya Allah.. Turunkanlah hujan kepada kami)

Tengah malam itu,… saya terbangunkan oleh suara gemericik air. Saya seperti mengalami dejavu. Beberapa hari yang lalu saya pernah bertanya pada abie “apakah semalam hujan deras?”, dan abie menjawab tidak. Saya mengulangi pertanyaan itu tiga kali, dan abie menjawab tidak.

Jadi ketika malam itu saya mendengar suara gemericik air, saya butuh waktu beberapa saat itu meyakinkan bahwa itu bukan mimpi. Saya menoleh ke abie yang juga terbangun, “apa itu suara hujan?” iya, abie menjawab.

Saya tergugu sembari memekikkan takbir dan tahmid, berkali – kali, berulang – ulang. Menyadari bahwa begitu pemurahnya Dzat yang Maha Rahman dan Rahim kepada hamba2Nya. Hanya kepadaMulah kami memohon, dan hanya kepadaMulah kami meminta pertolongan. Hujan selama 3 menit itu memberi keyakinan kuat pada kami. Bahwa esok mentari akan tampak, udara akan semakin bersih, usaha pemadaman, dan taburgaram pembuat hujan buatan yang sebelumnya mustahil ada karena kepekatan asap tentunya akan berhasil..

Alhamdulillah Ya Rabbi….

Pekanbaru, 17 Maret 2014 (hari ketiga kami bisa melihat mentari lagi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s