Dan Brown : Inferno, resensi acakadut

Ini resensi kedua dari buku Dan Brown yang pernah saya buat, buku pertama kalau gak salah tentang angel-demon atau digital fortress ya? lupa… secara sudah lama banget saya nge-resensinya. Semua pasti sudah tahu, buku – buku Dan Brown itu tebelnya bisa dibuat bantal, tapi entah-kenapa setiap baca saya selalu bisa menghabisinnya. Bisa jadi karena timing yang dipakai oleh Brown pada setiap ceritanya selalu 24jam, atau karena deskripsi dalam bukunya seolah – olah nyata. Yang jelas, saya sangat jarang sekali skip cerita dalam buku Brown.

minjem poto di www.huffingtonpost.com

minjem poto darisini

Sebelum baca buku ini saya membaca Cuckoo’s Calling, buku detektif karya JK Rowling (tapi disini dia pake nama alias), begitu sampai separuh buku, dengan ajaibnya saya langsung skip ke bab terakhir. Hahahaha. Tapi membaca inferno-nya Brown, hanya sekitar 10% yang saya baca cepat (bukan skip bab loh yaaa), seterusnya saya baca sampai bab terakhir. Inferno saya habiskan dalam waktu 3 hari, dengan catatan : ketika anak – anak sudah tidur :-).

Sebenarnya saya tidak terlalu mengenal seni, sedangkan buku ini full dengan seni. Tapi Brown membantu pembacanya dengan menjelaskan secara rinci. Beberapa kali bahkan saya sempatkan browsing untuk tahu seni macam apa yang sedang diceritakan oleh Brown. Ternyata ada beneran loh…

Buku ini bercerita tentang upaya Langdon untuk mencegah menyebarnya wabah yang diciptakan oleh imuwan nyentrik untuk mengatasai overpopulasi manusia. Ada banyak twisted dalam cerita ini, sehingga pembaca akan terkecoh tentang siapa lawan dan siapa kawan.

Ilmuwan nyentrik itu percaya bahwa bumi ini terlalu “berat” menampung seluruh manusia,  dan apabila diteruskan seperti ini maka manusia lama kelamaan akan punah. Oleh karenanya, perlu pengendalian jumlah populasi manusia, agar mereka bisa tetap eksis dan bisa menggunakan sumber daya yang makin menipis.

Sejak awal pembaca digiring untuk mengira bahwa yang diciptakan oleh Ilmuwan itu (Zobrist) adalah wabah, yang akan menghabisi sebagian besar manusia secara cepat dan instan. Maka berkejaranlah Brown dengan waktu untuk menghentikan penyebaran wabah itu.

— Disclaimer: saya mau menceritakan ending buku ini, karena letak gagasan yang mau saya bahas ada disini, kalau belum baca bukunya sebaiknya stop disini—

Hebatnya Brown, di akhir cerita ternyata bukan wabah yang diciptakan zoobrist. Tapi virus yang bisa memutasi DNA manusia dan menjadikannya mandul secara acak. Artinya, hanya ada beberapa dari virus itu yang akan aktif melakukan mutasi DNA, dan manusia yang terkena virus aktif akan mandul. Menurut Zobrist, inilah cara paling manusiawi untuk menghentikan laju pertumbuhan manusia. Virus diacak agar tidak ada etnis tertentu yang steril, dan mutasi DNA tidak menyebabkan penderitanya sakit, berdarah-darah atau tersiksa hingga memenuhi rumah sakit.

Brilian bukan!, bukan virus Zobrist, tapi idea dari Brown. 🙂

Dalam salah satu cerita, seorang Ilmuwan lain (Sienna) mengatakan bahwa, otak manusia seringkali mengalami penyangkalan terhadap suatu hal yang terbilang traumatis. Misalnya, ketika dia melihat berita wabah/ bencana lalu timbul ketakutan dalam dirinya, kebanyakan manusia akan memilih meninggalkan berita itu dan berkata dalam dirinya “semua akan baik – baik saja” dll. Sehingga wajar, jika kita melihat hanya sedikittt sekali orang yang aware terhadap pemanasan global, sedikittt sekali yang benar2 concern terhadap sampah yang membeludak. Karena sebagian besar manusia akan memerintahkan otaknya untuk melakukan penyangkalan “semua akan baik – baik saja”.

Kenapa saya menyebut Brown brillian?. Seperti kita ketahui bersama, Kalau dulu mudah sekali orang punya anak, tengoklah sekarang di sekililing kita. Ada banyak sekali pasangan yang sulit punya anak, kista, miom, kekacauan hormon, zero sperma, sperma lemah dll. Saya sudah menemui kesemua orang dengan keluhan seperti itu di sekeliling saya. Dan penantian mendapat anak bahkan ada yang sudah mencapai 12 tahun.

Anehnya, saya merasa bahwa Brown (mungkin) memunculkan ide ini : “penyebaran virus pensterilisasi” sebagai bantuan untuk “penyangkalan” bagi otak manusia. Kebayang gak analisa saya?. Agar manusia punya alasan di otaknya –meski itu imajiner- akan penyebab sebagian manusia kesulitan punya anak. Saya tidak tahu apakah Brown punya anak atau tidak. Tapi sepenulusuran saya sejak menikah tahun 1997 (CMIIW), Brown berdua saja dengan istrinya.

Setelah menghabiskan bab-bab terakhir, tetiba saya tersenyum. Karena sebenarnya saya juga punya gagasan yang mirip. Tidak sefuturistik dan se-real Brown, tapi saya menggunakan klausalitas “membaca”.

Terkadang pada beberapa pasangan saya melihat ada penyajian hubungan sebab-akibat yang dipercaya oleh nenek moyang kita, yaitu tanam-tuai. Bukan merupakan analisa sebenarnya, tetapi mendengarkan opini beberapa orang diluar pasangan-pasangan tersebut atas kondisi mereka.

Saya mohon maaf sekali karena ini isu yang sangat sensitive dan jika menyinggung pembaca.

Ada yang “karena” (tanda petik karena ini adalah asumsi orang disekitar, bukan penyebab secara medis), yang meski mengadopsi anak pancingan, tetapi faktanya mereka tidak bisa mencintai anak tersebut, bahkan cenderung menyiksanya.

Ada yang “karena”,  begitu pelitnya seseorang sehingga orang – orang disekitar mendoakan agar mereka tidak punya anak.

Ada yang “karena” sebelumnya pernah berujar : gakpapa gak punya anak, yang penting punya suami.

Ada yang “karena” begitu kejam mengabaikan saudaranya.

Ada yang “karena” menunda hamil hingga 5 tahun lamanya.

Ada yang “karena” begitu jahat dengan istrinya.

dan masih banyak karena – karena yang lain.

Tapi kadang saya tidak bisa menemukan “karena” ini diantara orang-orang baik yang saya kenal. Orang – orang yang mendedikasikan diri mereka di jalan dakwah, orang – orang yang tiap jumatnya tak luput untuk bersedekah, orang – orang yang jika engkau pandang niscaya ingin sekali kau peluk karena teduhnya pandangan mereka. orang – orang yang meski (mungkin) perih tiap berkunjung ke kolega yang melahirkan tetapi tetap melapangkan dada seluas samudra dan tak pernah alpa berkunjung. Orang – orang yang tutur katanya halus, akhlaknya baik dan selalu menenangkan.

Sungguh, saya tidak bisa menemukan “karena” ini.

Lalu pikiran liar saya berkecamuk….

Kelak… di akhir jaman, akan tersisa orang – orang yang begitu jahatnya untuk menghadapi hari akhir. Orang shaleh habis, dan apakah mereka habis direnggut wabah atau bagaimana, sy belum pernah membaca nash itu. Hanya orang – orang yang masih pny sedikit iman saja, pada akhirnya disapu gelombang yang tak menyakitkan dan membawa mereka dalam kematian.

Saya menduga, sterilisasi inilah penyebabnya. . .

Sedikit demi sedikit, manusia dimandulkan (kesulitan punya anak) bahkan pada orang – orang baik adalah untuk mencegah anak-keturunan orang baik itu mengalami akhir jaman. Agar mereka tidak termasuk kedalam orang – orang yang sempat melihat akhir jaman. Seburuk – buruknya kaum.

Sebagai orangtua, jujur kadang saya menjadi sangat paranoid tentang masa depan anak – anak. Berkaca pada begitu banyaknya tantangan pada jaman sekarang yang terlihat mengerikan. Deras kita berdoa bukan hanya agar anak kita tak terkena marabahaya, tetapi agar anak kita tidak menjadi pelakunya. Naudzubillah

Logika ini, (hanya logika manusia), saya harap dapat membantu teman – teman yang belum dikaruniai anak agar tidak terlampau bersedih. Bisajadi mereka dipilih justru karena baiknya keturunan mereka agar tidak terkontaminasi, atau tidak ikut merasakan tantangan yang -sepertisayabilangtadi- mulai terlihat mengerikan. Semoga kalaupun pada akhirnya anak-keturunan tidak hadir dalam kehidupan mereka, mereka masih bisa percaya, bahwa mereka orang – orang baik yang terpilih. yang tidak akan lari dari TuhanNya apapun yang terjadi.

Doa saya hembuskan agar mereka, sahabat – sahabat saya mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. apapun bentuknya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s