Perayaan Ultah Anak di Sekolah

Dulu, dulu sekali. sewaktu masih abegeh dan labil pernah gak merasa ulang tahun itu penting banget? Saya pernah. Lupa kapan persisnya, kalau gak esempe ya esema. Setiap ada temen dekat yang lupa ngucapin selamat ultah rasanya bête banget. Kita selalu berlomba2 untuk jadi orang pertama yang ngucapin. Makanya sampai dibela2in tuh, pasang weker suapaya bisa bangun jam 12 dan jadi orang pertama yang ngucapin selamat. (atau sebaliknya, semaleman gak tidur supaya bisa ngecek siapa yang pertama ngucapin selamat). Dan… orang pertama yang ngucapin selalu spesial…

Itu dulu, dulu sekali… sebelum saya tahu “Islam tidak mengenal perayaan Ulang Tahun”. Bahkan Rasulullah, qudwah/ panutan kita tidak pernah merayakan atau meminta dirayakan hari lahirnya.

Sejak “lebih” mengenal dien saya,  Alhamdulillah sedikit demi sedikit saya paham, mana perayaan2gakpenting yang mubadzir dan sebaiknya dihindari. Qodarullah, abie, suami saya pun seide. Jadilah kami, semenjak menikah memutuskan tidak ada perayaan apapun dalam keluarga kami. Baik itu ultah, anniversary, selamaten dll. Jadi jangan ditanya, saya sering “mikir dulu” ketika ditanya tanggal lahir anak-anak, atau seringkali lupa tanggal lahir abie dan saya sendiri. Tiba2 sudah lewat saja.

Efek dari meniadakan perayaan ini luarbiasa loh. Saya merasa terbebas dari rasa ingin disepesialkan, rasa ingin menilai keistimewaan orang berdasarkan ucapan/ kado mereka (nista, sungguh saya akui pikiran ini sangat nista). Terbebas dari pengeluaran mubadzir dan hal – hal yang tidak sejalan dengan sunnah.  Saya jadi memandang setiap hari adalah spesial, setiap hari adalah berkah dan setiap hari adalah momen yang wajib disyukuri.

Kepada anak2 kami juga tidak memperkenalkan ultah, beberapa kali sempat ada “tantangan” karena pada masa kanak2 undangan ultah cukup banyak. Tantangan terdekat adalah dari utie, yang mungkin merasa “sedih” karena kami tidak pernah mengucapi beliau selamat ultah, namum setelah diberikan penjelasan Alhamdulillah beliau mengerti. Atau undangan ultah dari tetangga dan teman dekat, kami mensiasatinya dengan tidak datang namun memberi hadiah di lain waktu. Alhamdulillah juga, sekolah anak2 pun seide dengan kami, jadi tidak ada anak yang meraykan ultah, pun kalau ingin memeberi buah tangan cukup di hari kapanpun.

Perayaan Ultah di sekolah

Sebenarnya itu adalah urusan masing2 orang jika ingin melaksanakan/ tidak ultah mereka. Terserah juga apa niat mereka. Namun, saya pribadi tidak setuju –bahkan dalam prinsip demokrasi sekalipun- pelaksanaan hak yang melanggar hak orang lain tidak diperbolehkan. Artinya, apabila perayaan ultah ini menjadi wajib/ dilegalkan dimana masih ada pihak yang tidak setuju, maka seharusnya tertolak. Dalam islam apalagi, perayaan ultah yang notabene tidak ada dalam Islam, jelas tertolak.

Sayang sekali masih banyak yang terkesan “memaksakan” perayaan ini. Puncaknya adalah ketika saya mendengar dan membaca sharing dari para buibu.

Ada sekolah (TK) anak teman saya yang memasukkan “anggaran ultah massal bulanan” pada biaya pembayaran sekolah mereka. Tiap anak akan membayar 20rb/ bulan untuk perayaan ultah massal setiap bulannya. Jadi anak2 yang ultah pada bulan itu akan merayakan ultah bersama2 dengan goodie bag, kue dll yang dikoordinir oleh gurunya.

Ada pula anak yang trauma masuk sekolah karena “diteror” gurunya karena tidak memberi kado pada temannya yang ultah disekolah. Alasan gurunya adalah “kamu kan sudah terima goodie bagnya”. astaghfirullah…

Ada pula anak yang didiemkan teman dekatnya karena tidak memberi kado pada saat perayaan ultah disekolah. MasyaAllah….

Sepenting itukah perayaan ultah itu? disekolah pula!. Dulu saya masih ingat, bagaimana kami harus kucing2an dengan guru BP dan Kepsek kalau merayakan ultah dikelas. Sekarang? kok seolah2 wajib. Sejak kapan sekolah terlibat (baca: ikut campur) dalam perayaan ultah anak2 di sekolah?.

Berapa banyak waktu yang akan tersita? berapa banyak anak2 yang akhirnya nanti merengek2 minta dibuatkan ultah juga sementara orangtuanya tidak mampu? berapa banyak anak yang nantinya mendiamkan temannya hanya karena kado? berapa banyak anak yang akan diteror oleh gurunya?.

Dan akhirnya… berapa banyak anak yang nanti tidak memahami sunnah?

Astagfirullah….

Kita tidak perlu merayakan ultah hanya untuk mensyukuri berapa lama kita hidup, cukup dengan banyak berbakti kepada Allah. Tidak pula menunggu ultah untuk makan bersama, atau mendapat hadiah, dan makan kue tart.

Semoga sekolah dapat memahami ini, ikut andil dalam perayaan ultah bukan hal terbaik yang bisa dilakukan oleh sekolah.

wallahu ‘alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s