Idhul Adha di Masjid Umar Bin Khattab

Tulisan ini terinspirasi postingan di status facebook teman, intinya adalah status itu komplen dengan perilaku sebagian masyarakat yang keukeuh nggak mau ngasih hasil kurban ke panitia karena dianggap gak nyunnah. penulis status menyarankan “sekalian ajah potong sendiri, bagi2in sendiri”.

Masyaallah, saya sangat miris membaca status tersebut, terkesan menyepelekan sunnah. Namun karena itu bukan wall saya dan demi menghindarkan diri dari debat kusir yang nyata, maka saya akan coba menulis di blog saya saja.

Bismillah…

Jujur, sy sangat awwam dengan masalah ini, informasi sangat lengkap mengenai idhul adha (fiqh kurban)  dan insyaAllah shahih dapat dibaca di link ini. Namun yang ingin saya ceritakan ini adalah proses kurban yang diimplementasikan oleh masjid di dekat rumah kami. Masjid Ummar bin Khattab namanya. Masjid ini satu kompleks dengan SDIT, Ponpes (setingkat SMP), dan PAUD maupun TKIT.

Rerata, penduduk pekanbaru lebih suka patungan membeli sapi. Mungkin ini dikarenakan kambing masih kurang familiar sebagai bahan masakan bagi sebagian masyarakat Pekanbaru, pun masakan rendang kerapkali menjadi hidangan utama bagi mereka. Jadi di penjuru Pekanbaru, akan lebih mudah menemukan kurban sapi (yang ditanggung patungan bersama 7 orang) ketimbang kurban kambing.

Pada awal pendaftaran kurban, panitia kurban akan menentukan besaran patungan bagi shohibul kurban, misal untuk patungan sapi sebesar Rp1,8 juta. Namun di awal akan diberitahukan biaya untuk membayar jagal kurban dan keperluan yang lain, misal 50 ribu/ orang. Jadi, shohibul qurban akan membayar Rp1,850 juta rupiah ke panitia.

Shohibul kurban pun wajib ikut dalam proses penyembelihan dan proses sesudahnya. Kalaupun mereka berhalangan hadir maka diminta untuk mengutus kerabat untuk ikut dalam prosesi kurban.

Selepas sholat ied, seluruh shohibul kurban (umumnya sudah membawa baju ganti dan parang yang tajam), segera bersiap – siap mengurus hewan kurbannya masing – masing. Setelah sarapan (setelah sholat ied adha disunnahkan makan), shohibul kurban didamping panitia dan tukang jagal akan menuju sapi mereka masing – masing. Sapi dihadapkan satu persatu, sapi yang belum disembelih masih ditempatkan di lapangan yang lain untuk mencegah sapi ketakutan/ stress melihat penyembelihan sapi sebelumnya.

Masing – masing sapi akan ditangani 8-9 orang (jagal + para shohibul kurban), merekalah yang bertugas menenangkan, merebahkan, memegangi dan menyembelih sapi saat dilakukan penyembelihan. Setelah disembelih, mereka pulalah yang akan menguliti, memotong, mencuci jeroan dan menimbang daging hasil kurban.

Hasil kurban akan ditimbang dan dibagi tiga, sepertiga diberikan kepada dhuafa, sepertiga diberikan untuk hadiah, dan sepertiga diberikan kepada para shohibul kurban (yang ini berarti dibagi untuk tujuh orang lagi). Kaum dhuafa dan penerima hadiah adalah yang datanya sudah masuk ke panitia sebelumnya. Dari sini, panitia dan tukang jagal sama sekali tidak mendapat bagian dari hasil kurban atas jasanya membantu penyembelihan ataupun mengurus kurban. Panitia/ jagal kurban boleh menerima dalam rangka sedekah dhuafa (jika mereka miskin) ataupun sebagai hadiah, bukan sebagai balas jasa.

Dengan prosesi seperti ini, jelas sunnah dapat diimplementasikan dengan baik, pun masing – masing shohibul qurban dapat ikut memahami prosesi kurban sebenarnya. Dengan begini, para shohibul kurban dapat bertanggungjawab atas kurbannya masing – masing. Anak – anak tak lagi takut dengan prosesi, para bapak pun mau tak mau harus “belajar” dengan prosesi kurban. Sungguh, ketika saya melihat suami saya turut ikut prosesi, saya merasa melihat sesosok imam yang sangat lengkap. Jadi dimanapun kami nanti berada, insyaAllah beliau mampu menjalankan proses kurban sendiri.

Selain itu, sebanyak apapun kurban yang disembelih di masjid, prosesinya tidak pernah melewati waktu sholat dhuhur karena masing – masing shohibul kurban menyelesaikan bagian sembelihannya sendiri. Sebelum adzan dhuhur berkumandang, prosesi telah selesai dan masing – masing orang dapat menunaikan sholat berjamaah di masjid dengan tepat waktu.

Saya selalu percaya, dimana ada azzam dan komitmen yang kuat untuk melaksanakan sunnah akan selalu ada kemudahan untuk mengimplementasikannya. Jadi.. semoga masing – masing dari kita tidak berkecil hati, tidak menyepelekan (naudzubillah) dalam implementasi sunnah ini. InsyaAllah… semuanya akan lebih berkah.

wallahu’alam

Pekanbaru, 12 Dzulhijjah 1434

Iklan

4 thoughts on “Idhul Adha di Masjid Umar Bin Khattab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s