Bertemu Kanker (Lagi)

Setelah beberapa waktu, saya baru bisa menulis hal ini. Sedih masih meruap – ruap, bahkan saat menulis inipun, airmata saya tak berhenti mengalir.

Awal September 2013.

Dapat kabar dari Surabaya, Ibuk (nenek dari papa) tetiba masuk RS. Ceritanya karena setelah jalan – jalan sore ibuk merasa sangat sakit dibagian perutnya. Semakin hari perutnya makin membuncit, dan beliau semakin lemah. Alhasil, paklik dan buklik di Surabaya membawa beliau ke RS, sempat diopnam beberapa hari, hingga datanglah vonis itu lagi.

Kanker Pankreas Stadium Lanjut. dokter angkat tangan, ibuk dipersilakan pulang.

 

dua belas tahun yang lalu

Awal Februari 2001

Papa, putra pertama sekaligus kesayangan Ibuk, tetiba kejang dan jatuh pingsan. Serabutan kami membawanya ke RS. Rontgen paru, otak dan check up lengkap dijalankan. Memang sudah sebulan terakhir papa mengalami batuk. Namun vonis dokter selanjutnya membuat kami ternganga, vonis yang sepertinya tak mungkin menimpa seorang non perokok, non peminum dan selalu hidup sehat.

Kanker Paru – Paru Stadium Lanjut. dokter angkat tangan, papa dipersilakan pulang.

dengan “nasehat” tambahan : umur papa tinggal lima bulan.

Seminggu kemudian ibuk sare dengan tenang, insyaAllah sudah bertemu dengan papa, putra kesayangannya. Buklik mengisahkan, di akhir hayat ibuk, diantara lantunan yasin, beliau berbisik lirih “sandingno aku karo masmu*”. Ibuk berpulang lebih cepat dari papa yang “masih” bertahan selama empat bulan pasca vonis.

Ibuk dan papa, dua sosok terdekat saya semasa kecil, pergi menyerah dalam renggukan kanker. Keduanya tak pernah menunjukkan tanda – tanda sakit sebelumnya. Entah karena mereka yang tak mau mengeluhkan sakitnya, atau karena symptom kanker yang tetiba muncul.

Ahh… hal yang saya sesali adalah, sy tak punya cukup banyak foto mengenang mereka. Bahkan duoSS tak sempat melihat kakeknya, pun tak punya foto dengan buyutnya.

Untuk pertama kalinya, setelah hampir enam tahun dirantau. Saya benar- benar ingin ditempatkan di Surabaya. Saat – saat seperti ini, saya merasa terlalu jauh dengan keluarga.

Saya bersaksi ya Rabbi, mereka berdua adalah papa, suami, anak, ibuk, istri, mertua dan nenek yang baik bagi kami.

Al Fatihah untuk mereka berdua…

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.

*beliau minta dimakamkan disamping makam papa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s