Hati – Hati “Bermain” di Socmed

Ini nasehat saya di hadapan anak2 PKL yang sedang magang di kantor saya :

“Socmed adalah representasi kalian. Saat kalian sedang menuliskan status, itu berarti kalian sedang mengirimkan avatar2 kalian kedalam dunia maya. Bedanya, jika di dunia nyata orang yang mendengar kalian berbicara adalah orang yang bisa kalian lihat/ temui. Namun di dunia maya, sadar atau tidak, suka tidak suka, semua orang didunia “mendengarkan” kalian. Tidak semua hal yang kalian pikirkan, kalian rasakan, kalian dengar, kalian punya dan kalian lihat layak dituangkan di socmed. Setiap kali kalian hendak menulis di socmed, pastikan terlebih dahulu, apakah kalian benar2 ingin orang lain membaca itu? dan apakah kalian siap, dengan konsekuensi pasca penulisan itu?”

Kenapa saya tetiba ngasih kuliah umum panjang lebar di hadapan anak – anak PKL yang masih SMA itu?. Di kantor sedang ada anak PKL dari dua sekolah, karena ada sedikit masalah, mereka jadi “perang” status di socmed. Tidak secara langsung memang, tapi masing – masing pihak merasa disinggung. Efek dari perang status itu ternyata berimbas di kehidupan mereka di kantor. Tidak saling sapa, tangis2an, ada yang menyendiri dsb. Bahkan ada orangtua siswa yang sengaja menelpon kesalah satu kolega untuk dicarikan solusinya. Saya, yang setelah kejadian pemicu itu bermaksud mengumpulkan mereka, sedikit terlambat beberapa hari karena load kerja di kantor sedang banyak – banyaknya. Hingga beberapa hari berikutnya, setelah memastikan kejadian yang sebenarnya dan mengumpulkan bukti2 (halah, kayak detektif aja), saya dan tim mengumpulkan anak – anak PKL, hingga muncullah nasehat panjang lebar itu.

Alhamdulillah, setelah dikumpulkan dan diberi pengarahan mereka guyub lagi, bahkan terakhir saya dengar mereka sedang “rapat” acara perpisahan karena masa magang mereka segera berakhir.

Kasus perang status di socmed ini tak sekali saya temui. Bahkan pelaku-korban nya tak hanya anak SMA loh. Pekerja kantoran disekitar saya dengan usia 30tahun keatas pernah tersandung masalah ini. Hasilnya jadi berabe banget, sampai melibatkan campur tangan atasan, si pelaku tidak bijak karena memaki di socmed, dan si korban agak lebay dengan melapor-laporkan ke atasan.

Saya sendiri pernah dimaki – maki di socmed oleh teman yang dulu saya kagumi. Pemicunya adalah karena saya memintanya istighfar karena memaki para ulama. Saya shock, saat itu sebenarnya saya ingin teriak, Hellooo, Im Your Friend!. Jujur, sekarang saya merasa pasti agak rikuh kalau sewaktu2 –entah dimana- akan bertemu dengan dia. Tapi yang jelas, saya gak mau ngikutin statusnya lagi.

Saya pernah juga beberapa kali remove friend karena statusnya yang penuh kebencian, memaki – maki, dan penuh keluh kesah. Sedih banget bacanya, dan bagi saya citra dia hancur berantakan kali semena – mena menulis apa aja yang terlewat di pikirannya. Buat saya, alih – alih menghabiskan waktu membaca tulisan amarah yang mautidakmau muncul begitu saja di wall saya, lebih baik saya menggantinya dengan berteman dengan orang yang positif, member pencerahan dan informatif.

Karena itu, semoga saya dan anda…. bisa berhati – hati “bermain” di socmed

Iklan

2 thoughts on “Hati – Hati “Bermain” di Socmed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s