Belajar dari Wall-E, si robot pengepres sampah

Akhir – akhir ini duoSS sedang keranjingan nonton wall-E, lebih spesifik lagi sih Salman. Dia tuh yang selalu ngusulin untuk nonton wall-E, adeknya sih agak – agak protes, tapi kalau disetelin ya nonton juga. dalam dua minggu terkahir kayaknya sih udah 7 kali lah mereka nonton Wall-E. Gak tahu kenapa mereka demen banget nonton ini dibanding pororo, timmy dan pocoyo. Mereka nonton sih, tapi gak serutin nonton Wall-E ini. Saking sukanya, Salman sampai pernah ngomong “Umi, Kalo aku sudah besal, aku mau melakit lobot kayak wall-E”.

Wall-E

Wall-E

Kalau ada yang gak inget Wall-E itu apa, ini pilem kartun produksi pixar tahun 2008 yang bercerita tentang sebuah robot pengepres sampah (waste collection). Dia satu-satunya penghuni bumi yang tersisa, bumi digambarin udah rusak banget, penuh dengan sampah elektronik. Jangankan bumi, ruang angkasa di sekitar atmosfir bumi aja udah penuh juga dengan sampah satelit luar angkasa. Wuih… pokoknya bumi dan sekitarannya digambarin sudah gak layak ditinggali oleh manusia. Manusianya sendiri kemana? mereka “dieksoduskan” dalam sebuah pesawat ruang angkasa yang sangat besar dengan fasilitas mewah dan dilayani oleh para robot.

Hal menarik dari film wall-E ini adalah pesan moral yang disampaikan melalui cerita tersebut. Film Wall-E mengingatkan saya pada sebuah film kartun (juga) bikinan perancis yang pernah saya tonton semasa kuliah sebagai tugas analisa film. Kalau tidak salah judulnya The Triplets. Inti dari kedua film ini hampir sama, yaitu tentang bagaimana membanjirnya teknologi di muka bumi ini akan sedikit demi sedikit menggeser nilai humanitas kita.

Pada film Wall-E digambarkan manusia2 yang tinggal di kapal mewah-lengkap-futurstik B&L menjalankan aktivitasnya dimobil elektrik, berbicara dengan orang disebelahnya menggunakan layar monitor, bermain golf dan pingpong dengan computer. Kehidupan seperti itu otomotis menjadikan mereka sosok-sosok yang obesitas, pendek dan tak mampu berjalan. Sementara sisi kemanusaiaan mereka pun mulai luntur. Ada scene dimana pengendara mobil elektik jatuh, orang – oang yang melintas didepannya tidak ada yang perduli karena terlalu fokus dengan computer mereka, hanya wall-e lah (si robot yang seharusnya tidak punya nurani) yang tergerak untuk membantu.

Moral Of Story, jangan sampai keajaiban teknologi menghapuskan sisi kemanusiaan kita. Karena saya agak miris sering ngeliat sekumpulan orang yang duduk bersama di sebuah restoran namun TIDAK SATUPUN dari mereka yang saling menatap dan bicara satu sama lain, semuanya sibuk dengan gadget masing – masing. Pernah juga liat anak – anak yang keliaran kemana-mana sementara bapak ibunya mantengin note/tab dan gadget masing2. Temen saya saja sampai pernah bikin perjanjian dengan geng-nya, “saat makan bersama direstoran, seluruh gadget ditaruh. Kecuali untuk menerima telepon dan sms, barangsiapa ambil gadget duluan, dialah yang bayar semua pesanan. ” hehehe, mantap kan?

Adalah wall-e dan pengagasnya sejak tahun 2008, sebelum membanjirnya Tablet, BB, dan aneka gadget luar biasa lainnya sudah mengingatkan kita untuk berhati – hati dan bijak menggunakan gadget tersebut. Atau kalau tidak… maka kita harus bersiap – siap menjadi sekumpulan orang- yang bergerak massif tanpa nilai – nilai kemanusiaan. Lebay ya? tapi coba lihat sekeliling kita, selalu ada momen yang membuat kita saat itu juga berpikir untuk perlunya detox elektronik.

Wall-E juga yang bikin saya sesekali mengingatkan anak – anak. Terlalu sering main gadget itu ndak baik, kalau ndak mau ambil minum sendiri, makan sendiri, dilayanin terus, ituloh jadinya. Dan Alhamdulillah, sekarang mereka mulai menunjukkan kemandirian, minimal mau ambil minum sendiri-dan mengembalikan ke tempatnya dengan rapi. ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s