Menyemai Cinta Anak – Anak

“Menjadi orangtua bukan hanya status karena mempunyai anak. Namun, karena kita secara sadar mempunyai peran untuk mendidik dan mengasuhnya sehingga mereka dapat tumbuh dalam perasaan dicintai dan merasa hidupnya diterima. Jadi, mereka pun dapat tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang arti hidup ini”

(@anak juga manusia)

Dulu sebelum punya anak, saya mengira bahwa kecakapan menjadi orangtua akan otomatis kita miliki sesaat setelah kita punya anak. Perubahan fisik kita, kehadiran fisik anak akan mempengaruhi pola pikir kita terhadap pengasuhan anak – anak secara natural. Naturally… i thought it came naturally, as natural as kids’s appearance. Ternyata saya salah! Bahkan saya terlambat menyadarinya, hingga Salman – anak pertama saya- yang saat itu berumur 9 bulan, memberitahu saya dengan bahasanya.

Ada tiga kesalahan “fatal” yang saya lakukan saat pengasuhan Salman.

Pertama, saat mengandung Salman saya tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup tentang persalinan dan breastfeeding. Jadi ketika saya melahirkan Salman, saya sempat mengalami pendarahan, pembengkakan jalan lahir, sembuh lebih lama, mengalami baby blues, dan berpikir bahwa “memberi susu formula tambahan pada anak sedari lahir itu tidak masalah“.
Pada saat kunjungan pertama untuk imunisasi dan cek pasca melahirkan (H+7 minggu), Alhamdulillah kedua dokter SPA dan SPOG menasehati saya untuk segera menghentikan susu formula. Maka, meski seminggu pertama menyapih Salman dari susu formula adalah berat, Alhamdulillah… kami berhasil. Kami meneruskan breastfeeding tanpa bantuan sufor hingga 9 bulan. Dan dia tetap ASI hingga 2 tahun 3 bulan.

Kedua, saya tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup perihal rational medication atau pengobatan yang rasional. Jadi, ketika Salman berusia 2 minggu dan mengalami grok grok, saya yang tetiba panik, segera membawanya ke dua dokter, dan kedua-duanya memberikan obat. Dokter pertama memberikan obat tak rasional yang umumnya diberikan untuk anak alergi umur satu tahun keatas!. Dokter kedua memberikan obat yang membuat pub Salman berbusa. Astaghfirullah, setelah browsing sana – sini, saya baru menyadari bahwa penyebab Salman grok – grok adalah debu dirumah. Pasca pembersihan besar – besaran dirumah (dan tentusaja penghentian obat), grok – grok Salman pun menghilang.

Ketiga. Kesalahan paling menyayat hati yang pernah saya lakukan adalah: tidak cukup memberikan waktu berkualitas padanya!. Sepulang kerja, saat saya demikian lelah, seringkali memilih rehat dulu ketimbang langsung memeluk dan mengajaknya bermain. Padahal utie pernah mengingatkan saya perihal ini, namun rasa lelah lebih menguasai diri saya. Hingga saat Salman berusia 9 bulan, dia terjatuh dan saya ingin memeluknya. Dia merespon dengan cara yang luar biasa. DIA MENOLAK SAYA, dan berlari mencari utienya. Hati saya seketika hancur, lebur berkeping – keping. Saya memaksanya tetap berada dalam pelukan saya dan berkali – kali bilang “maafkan umie, maafkan umie”. Dan Salman makin histeris sehingga saya terpaksa menyerahkannya kepada Utie.

Kejadian – kejadian itu membuat saya berazzam pada diri sendiri, membuat saya berjanji bahwa saya akan terus menjadi orangtua pembelajar. Bahwa saya tidak akan pernah memberikan waktu sisa untuk anak – anak saya, bahwa keluarga saya adalah prioritas nomor satu dalam hidup saya. Dan saya tidak akan mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang saya lakukan pada Salman. Selelah apapun saya, setertekan apapun saya.

Alhamdulillah, bantuan keluarga, ahli – ahli dalam seminar parenting, milis, buku dan sumber ilmu lainnya memberikan tambahan ilmu kesehatan dan pengasuhan anak bagi saya. Saya tak lagi irasional dalam pengobatan, dan akhirnya berhasil memberikan full ASI kepada anak kedua hingga satu tahun.

Saya tahu tidak mungkin menjadi ibu yang sempurna di semua bidang, maka saya memaksimalkan diri di bidang keahlian saya untuk memikatnya. Saya lebih banyak menyediakan waktu berkualitas untuk memeluk, menggendong dan mendongeng untuknya. Membacakan buku sebelum tidur adalah wajib, sehingga kini anak-anak mengemari buku dan sayalah pendongeng favorit mereka.

Saya bersyukur, masih diberi kesempatan oleh Allah untuk terus belajar dan mengemban amanahnya. Saya berterimakasih penuh kepada Salman yang mengingatkan saya dengan bahasanya. Karena itu, kerapkali saya menyebut Salman sebagai mentor saya pertama kali ketika  menajdi orangtua.

Terkadang, ada beberapa orang yang perlu terjatuh dulu untuk menjadi mengerti. Tapi alangkah beruntungnya orang yang sudah mengerti tanpa perlu terjatuh. Melahirkan anak tidak serta merta menjadikan kita orangtua yang hebat, karena profesi orangtua sebenarnya adalah profesi pembelajar tanpa henti.

Semoga kami, dan kita semua mampu mengemban amanah spesial yang Allah anugerahkan kepada kami.
Amin…

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

Iklan

6 thoughts on “Menyemai Cinta Anak – Anak

  1. Rasa bersalah kepada anak memang sering membuat kita banyak belajar. Refensi, ilmu, masukan yang mbak Elaine dapat, mampu merubah pola pikir sehingga menemukan kedekatan kembali dengan ananda.
    Menggunakan ilmu Alqur’an sejak dini dengan lebih diutamakan dalam mendidik anak, Insya Alloh bisa menjadi filter buat anak-anak dalam kehidupannya ke depan.

    Terima kasih partisipasinya, tercatat sebagai peserta.

  2. @mbak niken: iya mbak, kalau inget2 sebenarnya sedihhhh sekali, bukan kurangnya cinta, tapi minimnya pemahaman. Makasih sarannya mbak, insyaAllah dipraktekkan
    @pak insan: semoga dengan ini, tidak ada lagi ibu2 yang mengulangi kesalahan yg sama ya pak. hehehe

  3. datang berkunjung….

    mungkin bagi mbak elaine ini adalah kesalahan, tapi dengan kebesaran hati mbak akhirnya banyak orang yang belajar dari kesalahan ini. terimakasih untuk posting yang mengispirasi ini… 🙂

  4. Yang namanya belajar itu … banyak jalannya …
    ada yang memang sudah membaca teorinya …
    ada pula yang “kejadian” terlebih dahulu baru belajar …

    Apapun itu … yang namanya proses belajar itu harus terus dilakukan … entah dari teori maupun dari pengalaman …

    Semoga kita semua bisa belajar

    salam saya Umie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s