Belajar Membaca

Sejak anak – anak kecil sy jarang banget secara serius mengajari mas Salman membaca, maksudnya bukan dengan cara duduk manis, buka buku a-ba-ca trus minta dia baca gitu. Untuk menggantikan proses “serius” membaca itu sy lebih sering membacakannya buku cerita. Bisa tiap hari anak – anak minta sy membacakan buku cerita, s-e-t-i-a-p-h-a-r-i ada aja buku yang disodorin ke sy selepas pulang kerja. Biasanya sy bacakan buku setelah sholat maghrib atau menjelang anak – anak tidur, “bacakanlah mi..” seneng deh denger mereka minta dibacakan buku, jadi meski capek tetep dipaksain untuk baca.

Bukunya dari  mana? ya dari perpus daerah, perpus kantor, atau nunggu diskonan gramedia yang sering bookfair buku anak. Lumayan, buku cerita seharga 5 rbu bisa jadi buku favorit anak – anak.
Di sela- sela membacakan buku itu, sy akan pilih kata – kata yang paling sering muncul di sebuah cerita, lalu bilang ke anak – anak “ini dibacanya : Allah”, lalu di halaman lain sy akan minta anak – anak mencari kata Allah, yang bisa menemukan sy kasih applause. Alhamdulillah, kata pertama yang bisa “dibaca” oleh Salman adalah : Allah, sama seperti kata pertama yang bisa diucapkan Salman dulu.

Selain baca buku, sy sering ajak anak-anak “baca” apapun yang kami temui di sekitar, misal lagi jalan di mall atau di restoran, sy tunjuk sebuah kata dan membunyikan cara baca tulisan itu. Untuk adek, sy kenalkan huruf dari tulisan – tulisan di tembok mall atau daftar menu.

belajar baca menu sama abie

belajar baca menu sama abie

Selepas liburan panjang 2 minggu itu, Salman ijin tidak masuk sekolah. Setelah itu dia agak aras-arasen­ masuk sekolah.  Jadi, pagi itu sambil mengoleskan mentega dan meses di roti tawar untuk camilan pagi anak – anak, sy berniat berbicara “serius tapi ringan” dengan Salman.

U : Mas ndak sekolah kemarin?

S : Ndak

U : kenapa?

S : Ndak papa

U : Tahu ndak kenapa mas sekolah?

S : mm…

U : mas bisa kenal huruf, bisa kenal kata, nantinya bisa baca sendiri. bisa baca buku cerita sendiri. Trus kalau mas bisa nulis, mas bisa bikin tulisan sendiri, bikin buku cerita sendiri. Kalau bisa baca huruf hijaiyyah, mas bisa baca alquran, bisa baca cerita – cerita hebat, nabi – nabi. semuanya….

S : (diem mencerna). Lalu percakapan kami berlanjut ngalor ngidul.

Sorenya, setelah rehat maghrib, Salman dan adeknya ambil buku yang di kamar. Ada buku yang dipakai sekolahnya untuk ngajari anak –anak baca latin, kalau tidak salah judulnya “anak islam suka membaca”, buku itu cara kerjanya ngajarin anak – anak membaca persuku kata. jadi ngajarinnya, a – ba ca- da bukan a, b, c, d gitu. Jadi kalau sudah sampai za, anak – anak baru akan belajar membaca i-bi-ci-di. Nah, Salman mengambil buku yang itu.

Menurut laporan perkembangan Salman di paud, Salman sudah sampai yang i-i an gitu, jadi secara otomatis dia ambil jilid kedua. Dia mulai membaca sendiri. Aseli sendiri, ndak dibimbing atau diarahkan oleh kami. Kami cuma duduk disebelah dia saja, sambil kasih keplok-keplok.

Mulailah dia membaca.

ji-ka, eh… jika aku jadi mobil balap? hehehe*ketawa. (dia menyebut salah satu judul buku kesukaannya)

pa-di, itu ya bi, padi yang di desa ya? *senyum bahagia. (kami mengiyakan)

a-li, ah..aliong *kami ngakak (aliong itu nama supir truk mainan dia yang udah jadi mualaf dan ganti nama jadi alim. hehehe)

ha-ji, naik haji! *ketawa sumringah.

Alhamdulillah…. kami senang Salman bisa membaca. Tapi kami justru lebih senang karena Salman sudah menemukan passion membacanya. Lebih senang lagi Salman menyukai buku – buku.

Well,…. hope you enjoy your reading journey dear. my 4th year big boy. Love you!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s