Bicara Cinta

Bahasan mengenai hal ini sebenarnya sudah ada sejak lama di otak saya, la kok ndilalah pernah dimuat di blognya pakdhe cholik (itu tuh, blog tentang cintanya pakdhe). Bahasan tentang bagaimana cinta digambarkan di FTV (Film Televisi). Bedanya, sy punya ending yang beda. hehehe. Maka baiklah, akhirnya sy akan menuliskannya.

Stasiun TV yang kerapkali menayangkan FTV adalah S*TV. Cerita yang ditayangkan adalah hamper pasti tentang kisah cinta antara si Miskin dan si Kaya. Salah satu lead actor/ actress biasanya kaya, kesepian, gak punya teman, dikhianati orang sekitar dan gak merasa damai dangan hidupnya. Sementara pasangannya adalah si miskin, guanteng/ cuantik, kulit mulus (hehehe), perhatian, tulus, dan care sama pasangannya. Seperti sopir angkot, OB, tukang jamu, pemulung, pengamen dst.. dst…

Konflik akan memuncak kalau keluarga si kaya gak setuju, atau ada mantan pacar si kaya yang menghadang kisah cinta mereka. Keluarga/ mantan pacar diibaratkan sebagai orang nyinyir, materialistis dan sok2an… Tapi… orang ketiga ini hampir pasti selalu kalah ganteng/cantik, kalah keren dengan para lead actor/ actress. Namun endingnya hampir selalu bisa ditebak. Cinta mengalahkan segalanya, si miskin akhirnya akan bersanding dengan si kaya. Kalau kata anakgaul, cinta tidak memandang harta dan tahta…

ambil dari sini

ambil dari sini

Buat saya? buat saya tidak begitu. eits… sy tidak bermaksud hendak mendeskriditkan orang dengan golongan ekonomi tertentu loh yaaaa?. Tapi, sy tidak pernah percaya pada cinta yang buta. Buat sy, cinta itu adalah tanggungjawab. Ketika kita memutuskan mencintai seseorang, bersamaan dengannya-lah tanggungjawab itu menyertai. Sah-sah saja mencintai, tetapi cinta itu tetap harus dibingkai dengan tanggungjawab sesuai dengan keyakinan kita. Jangan karena dia ganteng doang, mulus doang, lalu kita ujug2 mak bedunduk mau aja. Kalau dalam keyakinan sy, cinta yang bertanggungjawab itu adalah yang didasarkan pada keTuhanan (monggo kalau mempunyai keyakinan yang lain). Karena kalau kita mencintai seseoranga karenaNya dan dia mencintai kita juga karenaNya, maka selama masing – masing masih mencintaiNya maka insyaAllah cinta itu akan selalu ada.

Lalu yang ingin saya soroti adalah peran orangtua yang ditampilkan dalam FTV, seolah – olah orangtua adalah sosok yang melarang cinta tanpa dasar. Padahal… orangtualah yang makan asam garam kehidupan, sedikit banyak mereka akan punya gambaran what is wrong/good. Opini mereka, apapun itu patut diperhatikan, patut pula didiskusikan, bukan asal lawan saja.

Sy agak terpukul dengan kejadian bahwa salah satu anak PKL yang magang di kantor kami absen dari rumah, sekolah dan tugas magangnya dikarenakan lari dengan sopir oplet!. Sy jadi mengira-ngira, apa anak ini terinspirasi FTV ya?. Anak SMA yang lari dengan mengatasnamakan cinta, apakah itu cinta yang segalanya itu?. Ah…..makin pening ajah.

Ada ribuan pilihan angle dalam menayangkan sebuah drama/movie/tayangan dan angle itu akan membantu penyampaian pesan utama kepada khalayak. Jika yang ditayangkan terus menerus adalah “cinta itu segalanya” alih-alih ”cinta yang bertanggungjawab”, sy agak takut membayangkan kedepannya. Pesan yang muncul bertubi-tubi bisajadi menyebabkan kalangan remaja yang menonton akan mengambil pesan “cinta aja, kalo ada yang ngalangin berarti itu reseh, apalagi orangtua, aduhhh reseh banget dah.”. Lalu atas dasar cinta, maka kita bisa mencintai “siapa saja” mau itu sejenis/ enggak (naudzubillah), “apa saja”, “dimana saja” “kapan saja” dan tanpa tanggungjawab apa-apa (karena setelah mereka “jadian” acara langsung the-end).

Ah… itu kan hanya tayangan, imajinasi, sah- sah aja dong dibuat yang indah2 ajah.

Oh ya? sy hanya tidak ingin kawula muda dicekoki mimpi2 indah saja. Lalu ketika mereka bangun akan tergeragap, tak siap lalu kalah dalam kehidupan mereka.

Semoga jangan, semoga tidak…. Bismillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s