Sedia Payung Sebelum Hujan

Enggak, saya tidak sedang ingin bercerita tentang hujan yang akhir2 ini datang mengunjungi pekanbaru kok, atau tentang jas hujan salah warna yang saya beli onlen kemarin ^^. Tapi ini tentang arti peribahasa tersebut.

Beberapa minggu yang lalu, setelah lebih dari 5 tahun bekerja dan mendapatkan restu dari suami serta ibu saya, akhirnya saya memberanikan diri mendaftar beasiswa S2. Selain kelengkapan dokumen, syarat lainnya adalah mendapatkan nilai TOEFL >450 dan TPA >565. Disinilah cerita bermula, ….

Minggu pertama januari tes TPA, seminggu setelanya baru tes TOEFL. saya yang sudah uzur ini (hehehe), terpaksa harus “manasin” otak supaya terlatih dengan soal – soal yang nanti dikasih. Alhasil, H-2 minggu saya sudah belajar TPA dan TOEFL dan secara khusus beli bukunya. Disela jam kantor dan waktu istirahat saya sempatkan mengerjakan soal dan simulasi di computer. Malamnya setelah anak-anak tidur, saya belajar lagi kadang sampai jam 1 malam.

Nah…. melihat saya tiap hari bawa buku TPA dan TOEFL, nyempil diperpus atau kadang di kubikel untuk sekedar latian soal ternyata sangat mengundang orang – orang untuk meledek saya. “wuihhh,,,, serius amat”, “udah gak usah belajar, ntar tambah stress loh” dsb, dsbnya….. hehehe.

Hasil dua minggu belajar TPA adalah soal yang plek ketiplek muncul di ujian hanya satu biji, hehehe. Sedangkan untuk TOEFL, soal yang muncul malah jawabannya dari subtitle pilem Korea yang beberapa waktu lalu saya tonton. hahahaha.

Lalu bagaimana dengan hasil tes saya? Alhamdulillah untuk TPA dapat nilai 603,70 (masih jauh dibawah yang ranking 1 yaitu 742, tapi bersyukur dapat ranking 4), dan TOEFL 520 (gak tahu ranking berapa). Sekeluarnya nilai saya, ada yang nyeletuk, “leyn, masak sih kalah sm si ini”, “bang ini aja segini” bla… bla… bla…Hahahaha… jawaban saya sih simple ”mereka bukan saingan saya kok”.

Saya tahu, it’s just a joke, tapi saya mengambil pelajaran penting dari hal ini. Ingatan saya melayang pada seorang kawan di masa kuliah dulu. Nasehatnya-lah yang merubah cara berpikir  di masa mendatang.

Dia ceking, tidak merokok, tidak makan junkfood/ mie instan dan aktif berolahraga. Anehnya, meski bergaya hidup sehat, dia justru lebih sering sakit dibanding saya yang makannya selebor, jarang olahraga dan apa adanya (ups). Suatu saat, pernah saya bertanya tentang kesehatannya, dia menjawab “tiap orang mendapat jatah sehat yang berbeda – beda leyn, mungkin waktu itu aku dikasih 6, dan yang lain 8. Dengan hidup sehat kesehatan saya menjadi 6,5, Sedangkan yang lain menjadi 7. Berbuat mati-matian pun aku mungkin tidak sesehat yang lain, sedangkan yang lain, enggak ngapa-ngapain sehatnya masih lebih baik dari saya. Tapi inilah ikhtiarku untuk mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah”. Manis kan jawabannya?

Saya bukan jenius, fyi kawan yang nilai TPA-nya tertinggi itu anak akselerasi, masih muda, sering lompat kelas dan sudah kerja dikantoran. Saya tipe orang yang perlu belajar agar mengerti, perlu membaca agar ingat kembali dan perlu berlatih agar terbiasa. Saya tahu, berusaha sekuat apapun, mungkin saya tidak akan bisa lebih tinggi nilainya dari dia atau kawan yang lain. Tapi…. dengan belajar, inilah ikhtiar saya demi mencapai tujuan, inilah ikhtiar saya menghargai otak yang diberikan Allah agar tetap bekerja, berlatih dan mendapat asupan ilmu. Bahwa belajar, adalah menyediakan payung sebelum hujan. Bahwa belajar adalah pemantik semangat berjuang alih – alih sekedar semangat untuk menang.

sumber dari sini

Dalam tes kemarin saya tidak melihat siapapun sebagai saingan. Karena saya yakin, jika saya berjuang dengan melihat saingan, maka saya akan mudah lelah  dan putus asa. Tes itu adalah murni pertarungan antara saya dengan soal – soal tes yang ratusan itu. Adalah tugas saya sendiri untuk menundukkan kertas – kertas yang memusingkan kepala. Dan proses itu, belajar – menjalani tes – menerima hasil adalah upaya ikhtiar untuk menggenapi hal selanjutnya yang disebut awam sebagai tawakal.

Bagaimana kelanjutan pengajuan beasiswa saya? wallahu’alam belum ada pengumuman.

Bismillah…. setelah sejauh ini saya berikhtiar, saya serahkan semua hasilnya kepada Allah….

Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam”

Iklan

3 thoughts on “Sedia Payung Sebelum Hujan

  1. Jika berjuang dengan melihat saingan, maka saya akan mudah lelah dan putus asa.
    Catet ah, hehehe..
    Makasih ya, Leyn. Sudah aku catat. Moga menang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s