Unspoken Word : Sayonara

Beberapa minggu terakhir, saya tahu, cepat atau lambat aka nada yang meminta saya speech atau memberikan testimony. Maka sewaktu acara perpisahan kantor dan sub bagian tidak ada segmen speech, Alhamdulillah sekali rasanya. Sampai pada akhirnya pada acara pelepasan anggota Dharma Wanita Jumat (18/1) lalu saya “dipaksa” untuk memberi testimony. Namanya ibu2, tahu sekali dimana letak “haru biru” berada, But as my prediction, I couldn’t do that, not even single word came from my mouth. I couldn’t….

Namanya Dwi Ari Susanty, kalau disingkat jadinya DAS, kami sering mengeluarkan joke menyingkat namanya menjadi Daerah Aliran Sungai. Nama Ari-nya pun seringkali salah ditulis orang, dia pernah berujar “namaku ini simple, tapi orang sering salah tulis”, kadang ditulis Ary atau Arie.

Waktu HUT BPK -150113

Waktu HUT Kantor-150113

Kami angkatan 2007, masuk dari jalur non Ak (selain lulusan SE, Ak-red). Pada masa kami (jadul banget bahasanya), lulusan non Ak diwajibkan magang dulu sebelum diklat karena kuota tempat diklat yang terbatas. Saya magang di Biro Humas dan beliau di Ditama Binbangkum (kayak biro hukum gitu), yang dimana kedua ruangan kami berdampingan, beda pintu doang. Selama satu bulan kami magang, pada waktu itu pula saya menyaksikan transformasinya, keputusan yang menjadi nazarnya waktu itu, berhijab!. Inilah nazarnya apabila diterima bekerja di tempat dia diperbolehkan berhijab (payah nih, di Jakarta masih ada intimidasi penggunaan Hijab). Selama magang, kami terkecoh dengan “perawakannya, karena rata – rata angkatan kami seumuran maka kami dengan lancang memanggil dia “dwi, dwi, dwi”. Sampai salah seorang rekan kami Ajeng bilang, “huss, mbak dwi itu angkatan ’98 tahu!”. Akhirnya kami bertobat dan memanggilnya “mbak dwi” hihihi. Pengecohan perawakan (baca-always look younger) inilah yang seringkali dibangga-banggakannya. J.

20130116_133552Selepas magang, kami menjalani diklat Auditor Ahli selama tiga bulan. Qodarullah, kami sekelas dan kamar kami hadap – hadapan. Pada akhir tahun 2007, kami ditempatkan di Riau. Sama – sama ditempatkan di Staf Kalan, dan ketika Subbag Hukum dan Humas dibentuk, disanalah kami –lagi – lagi_ disatukan. Pasang surut pekerjaan, naik turun emosi, suka-duka kami jalanai dalam rentang 5 tahun 4 bulan ini. Bahkan kenaikan jabatan menjadi III/b pun nama kami sama – sama di satu lampiran Surat Keputusan Kalan.

Bukan hanya kami yang berkawan, tapi juga ibu kami. Selepas kelahiran Salman –anak sy yang pertama-, mama memang ikut ke Pekanbaru. Dan selepas kelahiran Nathifa (anak pertamanya), mamanya ikut ke Pekanbaru juga. Awal – awal kedatangan mamanya, mbak Dwi mengajak beliau berkunjung ke rumah, ngobrol ngalor – ngidul menggunakan bahasa jawa krama halus dengan mama saya, dari ba’da maghrib sampai setelah isya.

Dan begitulah, tiap anak/ mama kami sakit, yang berkunjung bukan lagi anak beranak, tetapi juga anak beribu. Dari sini sy mengambil sebuah teori “Anak berteman Ibu berkawan” hehehehe.

Mbak dwi itu….orang paling rapi di ruangan, catatan keuangan subag dan meja selalu juara. Paling wise, bisa dipastikan setiap mengambil keputusan terkait kerjaan sy selalu menanyakan opininya. Paling kooperatif, dia tahu cara mengambil benang merah antara prinsip dengan kenyataan. Paling lama makannya, prinsip mengunyah 32 kali kayaknya selalu dipraktekkan. Kalau berdoa sebelum makan selalu angkat tangan. Gak punya fesbuk atau jejaring sosial lainnya. HP-nya dari dulu sampai sekarang ndak pernah ganti, selalu Nokia dan Sony Ericsson yang itu (dia bilang dia bukan maniak gadget, asal bisa buat telpon dan sms, sudah cukup). Tapi dia punya koleksi sepatu, tas dan jam tangan yang lebih2 dibanding sy (wanita mana yang tidak begitu selain sy?). Pengguna bodyshop dan sekarang wardah. Paling tenang, suaranya jauhhh lebih pelan dari saya, dan kadang – kadang melucu juga. Tanda- tangannya kaku, seperti tanda – tangan anak SD, tapi… konon, tanda – tangan ini penuh hoki. hehehe

20130116_13220220130116_132130Pernahkah kami berkonflik? Adakah orang yang tak pernah berkonflik sepanjang hidupnya? pasti ada, dan Alhamdulillah, sampai kami terpisahkan oleh Surat Mutasi, kami berada dalam kondisi saling memaafkan dan tak ada ganjelan diantara kami.

Ditariknya mbak Dwi ke Jakarta ditandai dengan mimpinya sebelum SK Mutasi keluar. Bagi saya, ini penanda awal bahwa karirnya sebentar lagi akan melejit (bagi saya loh yaaaa, entah bagi pimpinan, hehehe). Naiknya karir beliau hanya masalah waktu, mungkin… beberapa waktu kedepan jika kami berjumpa lagi, beliau sudah bertransformasi menjadi Kasubag/ Kase/ apapun… Aminn. Buat saya, no problem, menjadi stafnya pun rela (hakhakhak) karena sy tahu working skill dan social skill-nya. Saat menjadi Atasan, InsyaAllah dia tidak akan berbuat dzalim. Ya, Dzalim,… sikap yang akan menjadi cobaan besar bagi seorang atasan dimanapun.

Semua tak akan lagi sama tanpamu mbak, menjadi satu- satunya senior di Subag ini (kami kan pegawai terlama di Subag ini), dengan temperamen ini, dengan penyakitlupa ini, dengan ke-kaku-an ini, dengan keseleboran ini, dan puluhan sikap yang dulu hanya bisa di-balancing olehmu. Doakan saya bisa ya mbak, dan doa kami selalu… untuk kebahagiaan dan kesuksesanmu.

Please don’t change, If You So, just make sure just a little part.

and don’t forget us, promise?

Pekanbaru, hari pertama kerja tanpa dirimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s