Dulu saya dibesarkan di kalangan masyarakat metropolis yang penuh persaingan, praktis dan tak terlalu religius J. Persaingan sangat kental terasa, mulai dari bidang pendidikan yaitu sekolah, hingga di bidang pekerjaan.. Sebagai contoh, saya punya tetangga yang akan melakukan apapun agar anaknya bisa selalu masuk ke sekolah negeri. Padahal… secara kemampuan akademis anaknya biasa – biasa saja. Kebetulan mereka orang berada, jadi suap menyuap bagi mereka bukanlah hal yang susah. Jadi, anak itupun selalu masuk ke sekolah negeri walaupun sebenarnya dia tidak mampu J. Dan ini sudah jadi rahasia umum di kalangan tetangga.

Di tataran keluarga besar, mereka – mereka yang bekerja di wilayah swasta selalu bilang “kita tidak akan pernah bisa kerja kalau tidak ada koneksi”. Alhasil, jika ingin bekerja mereka selaluuuu mecari – cari kenalan agar bisa masuk di perusahaan tersebut. Minta tolong sana – sini, menghubungi orang – orang yang mereka kenal, dan lucunya kalau saya pikir – pikir mereka bahkan tidak pernah mencoba melamar pekerjaan yang mereka tidak punya koneksi didalamnya.

Lalu mereka – mereka yang berada di wilayah pegawai negeri, selalu menyiapkan (baca : mengumpulkan) uang kemana – mana agar bisa masuk jadi pegawai negeri. dan yang selalu saya dengar “siapkan uang sekian puluh juta, kalau mau jadi PNS”.

Alhamdulillah keluarga kami miskin, tidak punya koneksi dan gengsinya tinggi (hahahaha). Jadi semua peluang untuk suap – menyuap, nepotisme dan kolusi tertutup karena ketidakberdayaan kami. Kondisi itu justru mencuci otak saya dengan ketidakpercayaan bahwa kita setidakberdaya itu. bahwa kita sangat – sangat bergantung pada orang dan kekayaan. Oleh karenanya, saya yang gengsian setengah mati ini dalam hati berkata, “Saya akan buktikan, bahwa saya bisa sekolah dan bekerja melalui tes, tanpa suap dan tanpa koneksi”

Qodarullah…. Allah ijabah doa saya.

Alhamdulillah, dari SD sampai kuliah saya selalu masuk negeri. Puncaknya, tahun 2007 melaui tes yang berlapis – lapis saya diterima kerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tanpa suap, tanpa koneksi dan pure berdasarkan bantuan Allah.

Sesudah masuk menjadi PNS pun masih sering banyak yang menyangsikan bahwa saya bisa masuk tanpa membayar uang. Alhamdulillah semua orang tahu bahwa mama adalah janda miskin yang tidak mungkin mempunyai uang banyak untuk membayar suap. hehehe…

Dari situ saya belajar sesuatu. Disinilah letak lingkaran setan suap di kalangan pekerjaan itu bergulir baik itu swasta maupun negeri. Pada awal masuk ke dunia pekerjaan sudah salah dan hal ini didasari oleh mindset, peluang dan sumber daya yang dimiliki. Jika pada awal masuk saja mereka sudah kolusi dan suap sudah dimulai, bisa dibayangkan bagaimana mereka menjalankan pekerjaannya. Mungkin aka nada yang bekerja tanpa skill yang cukup, menjadi money oriented agar balik modal sampai meluluskan kenalan – kenalan yang mereka kenal jika nantinya mereka menduduki jabatan tertentu.

Jadi, apa yang bisa dilakukan untuk (setidaknya) memutus mata rantai itu?

  1.     Berhentilah mengira bahwa rezeki itu terletak di tangan orang lain. Allah telah menakdirkan rejeki dan kebahagiaan kita terletak dimana dan seberapa besar. Tinggal dengan cara apa kita menjemput rezeki itu.

Ada sebuah kisah di jaman sahabat rasulullah. Sahabat tersebut mempunya pembantu dan unta yang berkalung emas. Suatu hari, sahabat itu menitipkan untanya kepada pembantunya, kaena beliau akan pergi untuk suatu urusa. Pembantu tersebut tidak sabar melihat kalung emas di leher unta, dan mengambilnya dari leher unta tersebut. Sepulang dari keperluannya, sahabat terkejut kalung emas tersebut sudah hilang dan menanyakan kepada pembantunya, akhirnya pembantu tersebut mengakui bahwa kalung tersebut dicurinya. Sahabat tersenyum dan berkata “Sejujurnya tadi aku mencari kalung karena ingin kuberikan kepadamu”. See? rezeki itu sudah diatur.

2.  Believe in God and  Believe in yourself. Percaya dirilah

3. Jangan paksakan untuk mengejar prestise, baik untuk diri sendir maupun untuk anak – anak kita.

4. Pegang teguh ajaran agama.

5.  Tingkatkan skill, dan terima diri apa adanya. (itu tanda kita bersyukur)

Alhamdulillah dengan cara – cara seperti itu, mudah – mudahan kita bisa menjalani pekerjaan dengan rasa bangga, hati yang bersih, kemampuan yang memadai sehingga cita – cita bangsa dan negara dapat tercapai.

Indonesia mari kita Bangkit! mulailah dari diri sendiri.I Belive We Can Clean ^^

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s