Helping People

Gak tahu kenapa, sy punya hobi ngalamun setiap naik motor. kadang saya senyum2 sendiri, kadang juga saya ngoceh2 sendiri. Seringnya sih saya malah nyasar. Saya agak lupa mulai kapan kebiasaan ngalamun ini muncul, mungkin sudah sejak sy bisa naik motor. hehehehe.

Sebenarnya sejak menikah saya sudah jarang naik motor kecuali abie pergi tugas keluar kota. Seperti hari itu, abie keluar kota dan saya menyetir motor sendiri. Saat break makan siang saya pulang kerumah untuk menengok anak2. menyusui si kecil, menidurkan anak (kalau mereka mood tidur siang pas jam itu), makan, sholat, atau sekedar mengecek apakah mama perlu bantuan dirumah.

Sekembalinya saya dari rumah, kebiasaan ngalamunwaktunaikmotor saya kambuh. dan tiba2 sy sudah berada di jalur “lain” yang tak biasa (fiuh) dan diarea itu ternyata gerimis sedang mengundang.. cepat2 sy putar haluan kea rah dimana awan tidak terlalu gelap, dengan berharap sy tidak kehujanan (males pakai jas hujan).

Saya memutar kea rah yang agak jauh dari kantor, dan ketika saya melewati sebuah SD, brakkk….!!!

Sebuah pagar warna hijau jatuh tepat di samping saya. otomatis sy berhenti, bersyukur tidak menimpa saya. tapi wait… I see someone under the vence. Sy buru2 mematikan motor, dan mengangkat pagar yang jatuh. ternyata pagar itu menimpa anak kecil. mungkin sekitar kelas 2/3 SD. MasyaAllah…. Saya panik, orang2 mulai banyak yang menononto dan berteriak2 “mana gurunya? manaorangtuanya?”.

Saya gendong anak itu dan akhirnya menyadari, teliga anak itu mengeluarkan darah terus menerus, dan dia mulai menangis “sakit… sakit…”. Astaghfirullah…. orang2 tetap berteriak-teriak mencari gurunya, menyuruh ini itu. dan….tidak ada yang berinisiatif membawanya ke rumah sakit.

Saya kemudian menurunkanya, “tunggu sebentar ya dik”, memarkir motor dan menggendongnya lagi lalu minta tolong pada pengendara motor, “tolong bonceng saya bu?pak?”, dan tidak ada yang mau, saya menyetop bermobil2, dan tidak ada yang mau berhenti. waktu di kejauhan akhirnya sy berhasil menyetop mobil orang yang saya kenal (rekanan kantor), dia akhirnya berhenti. Alhamdulillah, pikir saya. Saya meminta tolong agar dia mau mengantar ke rumah sakit, dan dia bilang “waduh.. saya mau ngantar pesanan orang mbak”. Saya lemas…

Setelah beberapa saat, Alhamdulillah sy menemukan taksi dan membawa anak itu pergi. Sesat sebelum sy pergi sy melihat ibu dari temannya dan bertanya “ibu mau ikut?” dengan asumsi agar beliau bisa membantu sy menghubungi orangtuanya, dan ibu itu bilang “sy masih ada kerjaan mbak”. Saya pun pergi seorang diri membawa anak yang telinganya berdarah itu ke rumah sakit terdekat….

Untungnya anak itu masih sadar, dan masih ingat nomor handphone bapaknya, jadi saya bisa menghubungi bapaknya saat itu juga.

Sesampainya di UGD, tenaga medis disana menemukan bahwa telinga anak itu terbelah dan perlu dijahit. Jadilah saya, yang memegangi tangannya dan menenangkannya agar tak panik sampai keluarganya datang. Kabar baiknya, tidak ada luka dalam.

Tidak, cerita ini saya tulis bukan untuk memamerkan heroisme atau keriya’an apapun. Saya justru hanya ingin berbagi nelangsa. Bagaimana orang lebih sanggup menjadi penonton ketimbang bertindak, bagaimana orang begitu takut waktu dan pekerjaannya terhambat hanya karena menyelamatkan nyawa. Bagaimana orang begitu sibik mencari siapa yang selayaknya bertanggungjawab ketimbang membantu menyelesaikan masalah. ini kisah kecil…. yang menampar wajah saya akan matinya nurani manusia. bahkan terlebih kepada anak kecil. Tidak pernahkah manusia2 itu berpikir bahwa yang tergeletak itu, yang telinganya terbelah itu adalah anaknya, adiknya, cucunya, keluarganya atau kerabatnya. Dan tidakkah mereka pernah berpikir?, bahwa lambatnya pertolongan akan mengancam jiwa orang2 yang mereka kasihi. Apa yang ada di benak mereka jika anak mereka, disuatu tempat di antah berantah sedang terkena musibah, lalu orang – orang acuh tak mempedulikannya? Have they ever think about that?

Padahal mereka hanya perlu membuka pintu mobilnya, membantu saya menggendong anak itu, atau mengantar saya kerumah sakit. hanya perlu itu…. menolong orang itu mudah Bapak Ibu yang terhormat

Saya nelangsa, senelangsa-nelangsanya….

menyaksikan manusia – manusia dengan hati membatu sedang berjalan, bergerak massif tanpa arti.

Astaghfirullah al adhim… Ya Rabbi… tolong… jangan bekukan hatiku seperti mereka… tolong jangann…

-Pekanbaru, 5 Mei 2012-

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s