Empat Penjuru

Saat ditunjuk untuk menyampaikan kultum, seorang teman pernah berkisah tentang empat penjuru, secara singkat ceritanya begini (dengan bahasa saya) :

Setan menggoda kita dari empat penjuru. Dari samping kanan, dengan cara membesar-besarkan amal baik yang kita lakukan, agar kita riya’. Dari samping kiri, dengan perbuatan jahat agar kita berbuat maksiat. Dari depan, dengan menakut-nakuti kita akan masa depan. Dari belakang, dengan mengingat-ngingatkan kita akan masa lalu. Mereka tidak menggoda kita dari atas maupun bawah. karena kalau kita sujud kebawah, berarti mendekatkan kita kepada Allah. Dan Kalau kita memohon ke atas, berarti kita bergantung kepada Allah.

And it’s happen for me as real. kadangkala saya dibuat riya’ atas perbuatan baik yang tak seberapa. kadang pula diajak untuk berbuat maksiat. kadang kala dibuat takut akan masa depan yang akan menimpa anak – anak, dan kadang dibuat ketakutan akan masa lalu.

Dan yang paling parah menimpa saya adalah, ketakutan akan masa depan dan masa lampau….

Melihat begitu banyak berita buruk tentang kejahatan terhadap anak – anak, beringasnya manusia, dan ketidakmenentuan kondisi. Sering membuat saya paranoid akan masa depan yang akan dihadapi anak2. Apakah saya sanggup menjadikan mereka pribadi – pribadi mujahid, apakah saya sanggup membentuk  mereka menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan santun? apakah mereka akan aman? apakah mereka bla.. bla.. bla…?

Jujur kadang saya begitu takut membayangkan apa yang akan menimpa mereka. dan apakah saya berhasil menghantarkan mereka menjadi orang yang mampu menghadapi itu semua?

Lalu tentang masa lalu, …. Secara ajaib, saya sering menjelek2kan pribadi saya sendiri. tanpa sadar!, tanpa saya ingini. Saya sering merasa tidak pantas dengan apa yang saya peroleh saat ini, pun saya sering dingat2kan dengan dosa, keburukan dan kejahatan masa lalu saya. Kadangkala, rasa takut itu muncul dalam bentuk gumaman2 tak jelas.  Bahkan dalam titik kulminasi tertentu, gumaman2 itu membuat saya terbenam dalam mimpi buruk.

Hingga suatu saat… saat gumaman2 itu datang, kelibatan2 itu menghantui otak dan pikiran saya. menggerak-gerakkan diri saya untuk bersikap, saya meraba hati saya, dekat kedalam jantung. Sekedar untuk mengetahui apa yang sebenarnya jiwa ini rasakan? Apakah bergetar? Apakah saya benar2 seperti apa yang saya gumamkan dan pikirkan? Saya mencoba mendekat, merapat kedalam jiwa saya yang difitrahkan Allah untuk menjadi jujur, kepada tempat dimana awam menyebutnya sebagai : Nurani.

Dan dia tidak bergetar, dia tak bergejolak, dia diam, tenang, sepi… seperti degupan biasa. Lalu eureka! seketika itu saya paham, bahwa inilah godaan setan. Bisikan2 halus yang membuat saya meragukan diri saya. Pikiran2 yang mengajak saya untuk terus terpuruk dalam masa lalu dan ketakutan akan masa depan.

Dan saya bahagia, … meski pikiran saya sering terserang ketakutan2 itu, ternyata hati ini tidak pernah mengkhianati saya. Alhamdulillah…

Dan bukankah Allah sudah menyamankan kita dengan pesanNya? Takdir telah tertulis, pena – pena telah kering, Qodarullah… apa yang menimpa kita adalah Takdir dan ketetapan Allah. Pun kita tak pernah bisa melangkah ke masa lalu, tiap detik tiap menit yang terjadi adalah kita sedang melangkah menjauh sejauh – jauhnya dari masa lalu kita.

Alhamdulillah…. Segalla Puji BagiMu Ya Rabbi, Pemilik segala Jiwa…. jangan biarkan aku menguasai diriku… Jagalah aku dan jauhkanlah dari kejahatan setan yang terkutuk.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s