[Unspoken word] Transformasi Nilai

Dulu, sewaktu kami mendapat musibah kecurian laptop kantor (cerita lengkapnya baca dipostingan sebelumnya ya), suami pernah berniat meminjam laptop dari seorang kolega. Bukan laptop pribadi dia sebenarnya, tapi laptop kantor juga yang sedang dia pinjam. Saat itu kolega itu bilang “maaf ya, laptopnya dipakai anak saya”. J.

Tadi, waktu sedang ngobrol tentang distribusi barang kantor, seorang kolega lain sempat berbisik, “bos A minjem laptop baru kantor 3 biji, buat anaknya!” J.

Pernah juga kolega kami tergopoh-gopoh panik, meminjam komputer kantor dan minta tolong diprintkan dokumen, plus menjilid itu dokumen. Setelah dilihat ternyata tugas sekolah seorang anak, usut punya usut itu adalah tugas sekolah anak Bosnya. Dan as you know, itu bukan pertama kalinya dia “menyelesaikan” tugas sekolah anak si Bos tersebut. J

Well, Kadang saya pengen banget bertanya sama bos2 dan kolega itu, What kind of values,  you want to transform for your children?.Nilai apa yang ingin kalian wariskan? Nilai menggunakan barang milik negara yang bukan hak mereka? Nilai menggunakan jabatan orangtua mereka untuk “menekan” orang lain? Nilai terus menerus dilayani, bukannya berusaha berdikari diatas kaki mereka sendiri? Nilai apa ?!?!?!. Dan anak – anak seperti apa yang ingin mereka tumbuhkan dengan cara seperti itu? Anak – anak seperti apa ?!?!?!.

Bukankah kelak, ketika mereka bertumbuh dewasa nanti mereka tetap harus berusaha untuk bertahan hidup? Bukankah mereka akan punya kisah sendiri yang harus dihadapi dan ditaklukkan? Bukankah tak selamanya mereka akan hidup enak, ongkang – ongkang kaki, tinggal suruh2 orang? Bukankah mereka….suatu saat nanti, akan kita tinggalkan sendiri?.

Oke, taruhlah mereka di masa mendatang beruntung, tetap bergelimang tahta dan harta, tapi akan jadi seperti apa mereka? Selain kloningan – kloningan diri kita yang akan menggunakan barang milik negara yang bukan haknya, menekan orang dengan dalih punya jabatan? Akankah mereka jadi orang yang bisa memberi manfaat bagi manusia?jauh sekali rasanya…

Lalu kita mencoba mengelak saat disalahkan, bukankah mereka dewasa? Oh, tidak bisa…. karena pertumbuhan anak – anak sebenarnya adalah…. cermin bagaimana kita menumbuhkannya…

Naudzubillahi min dzalik.

Pekanbaru, 28 Maret 12

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s