Bahasa cinta kanak – kanak

Hari itu, air mata kami tumpah, lagi… untuk kesekian kalinya. Pasalnya si mas, yang 21 bulan lahir lebih dulu dari adiknya, tanpa sebab, menginjakkan kaki dipunggung adiknya yang sedang lelap!. Saya yang waktu itu mengambil baju-celana pengganti masnya yang basah karena baru belajar wudhu, langsung lemas dan histeris. Hampir kalap, hampir melakukan tindakan bodoh. Dengan sedih, setelah menggantikan baju-celana si mas sambil menahan marah, saya taruh mas keluar kamar. Dan mengunci kamar dari dalam… Di luar si mas menangis, ingin ikut saya. Di dalam saya menangis, sedih luar biasa, adek juga menangis karena kami berdua menangis… malam itu… air mata tumpah lagi…. Saat itu, si mas 2 tahun 4 bulan dan adeknya hampir 8 bulan. 3 bulan sebelumya, si mas duduk di perut adeknya. Mempunyai dua anak kecil yang umurnya tak terpaut terlalu jauh, pasti mengalami fase sibling rivalry. Apalagi si mas sedang di masa – masa pembentukan ego, golden age, momen dimana dia adalah pusat dunia, ingin diperhatikan, dianggap ada, dan merasa “disayang”. Dua kejadian diatas tanpa sebab, si mas tidak sedang diabaikan, tidak sedang dimarahi, tidak sedang berebut mainan, terjadi begitu saja, dan hanya beberapa detik saat kami lengah. Sangat tidak terprediksi. Sebelumnya kami pun sudah mengikuti seminar psikologi anak, membaca berbagai artikel, menghujani si mas dengan berbagai rewards karena “berbaikbudi” pada adeknya, berbicara secara dewasa, kadang serius kadang sambil bermain, mengadakan momen khusus ourtime, hingga menerapkan pojok hukuman. Namun kadang (seperti waktu itu), sikap “iseng” si mas tetap muncul. Pernah suatu hari, setelah 2 kali kami menerapkan pojok hukuman (diilhami oleh the na**y), muncul dialog ini : Si mas : umie, mas macuk cini ya? (pojok hukumannya) Umie : ngapain mas? Si mas : mau dihukum! (sambil ketawa) Umie : ha? Si mas : itu umie, iyat jam, cudah dua menit beyum? (karena dua tahun, timeout dua menit) Umie : jiyahhhhhh! Pojok hukuman kami gagal! Menerapkan pojok hukuman bukan tanpa luka, melihat dia meraung sambil terus mengembalikan dia ketempatnya semula, seperti sedang menggerus nurani. Tidak tega.. jika sudah begitu, kami duduk bersama sambil memeluk si mas. Dari semua keisengan mas, Kekhawatiran kami sebenarnya hanya satu : ada yang terluka!, baik itu adeknya yang terkena kontak fisik, atau masnya yang “tidak sengaja” terkena juga (oleh emaknya J). Sebenarnya kisah dua jagoan kami tidak melulu berujung “tangis”. Sejauh ini, bonding yang mereka bangun pun tak pernah biasa. Dia ringan tangan menggambil popok adeknya, Bergegas mengambil mainan saat adeknya menangis, Hanya si mas yang bisa segera merubah tangis adeknya menjadi tawa, Hanya si mas yang bisa membuat adeknya tergelak (pernah kami mencoba menirukan suara dan tingkah masnya, tapi tidak pernah berhasil membuat adeknya ngakak L ) Dan si masnya lah yang mengenalkan “dunia” kepada adeknya. Sering kami memergoki si mas bercerita tentang air, hujan, pelangi,dan mainan kepada adeknya. Melihat momen – momen itu, seolah mereka berada dalam dunia mereka, berbicara dengan bahasa mereka. dan kami? tidak diijinkan ikut. Ah, bahasa cinta kanak – kanak. kadang kami, para manusia dewasa tak kunjung mengerti… si mas, dengan “caranya” bergaul dan bercanda dengan adeknya. bahasa – bahasa gelak yang tak dapat kami salami berbelas – belas bahasa tangis yang kerap muncul berbeda – beda seringkali kami sikapi dengan cara yang salah. Kadang ada bersitan gundah, akankah mereka kompak, rukun dan saling bahu membahu jika dewasa nanti? Ya, itu PR kami semua. yang harus dicapai dengan segenap kesadaran, usaha dan doa yang dihembuskan ke kolong – kolong langit. ———- Lamunan saya melayang, ke sebuah momen yang diceritakan abie… Dia, bersama masnya.- satu – satunya saudara yang dimiliki- duduk berhadapan di kamar…sambil terisak, dalam sedu sedan pria dewasa.. Abie, yang saat itu sedang menempuh sekolah tinggi di Jakarta mendengarkan suara mantap masnya yang bercampur isak “wis, awakmu ra usah mikir biaya, sekolaho sing dhuwur” (sudah, kamu tidak usah mikir biaya, sekolahlah yang tinggi) Mereka, mas-beradik piatu itu, baru saja memakamkan bapaknya. ———– Semoga…. anak – anakku, mencapai bonding sekuat itu, dengan usaha dan bahasa cinta yang kami pupuk bersama. Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s