Sarung Keramat

 

Malam itu lala meraung, berteriak – teriak ke seisi rumah mencari sarung belel teman tidurnya. Pasalnya sedari sore, sarung belel peninggalan almarhum mbah lanangnya raib dari peraduan. Sarung kotak – kotak kombinasi ungu dan abu, yang terbuat dari bahan kaos yang adem dan lembut itu sebenarnya sudah bolong disana – sini dan berusia tahunan, bahkan mungkin lebih tua dari umur lala sendiri.

Gadis 7 tahun itu marah besar, tangisnya tak henti – henti. Dia ingat betul, pagi hari sebelum berangkat sekolah, sarung belel itu masih terlipat manis di atas kasur. Bukannya menemukan sarung kesayangannya, lala malah menemukan sarung samarinda yang baru dan bagus di kasurnya.

Usut punya usut, mbah putri yang gemes betul melihat sarung belel itu akhirnya tak sabar melihat gombal  tersebut (menurut mbah putri lhooo) masih terus dipertahankan kelestariannya oleh cucunya itu. Selain karena bentuknya yang sudah tidak karu – karuan, sarung itu pun sudah bau bukan kepalang.

Jadi, karena didasari rasa cinta kepada cucunya dan sifat higienis, mbah putri mengambil sarung belel itu, memotong – motongnya menjadi seukuran serbet dan menyebarnya di berbagi tempat (untuk menghilangkan barang bukti maksudnya). Lalu meletakkan sarung baru sebagai penggantinya, sarung samarinda yang lebih bagus dan kinclong.

Malam itu lala semalaman tak bisa tidur, bunyi isak tangisnya kerap terdengar di sela – sela bibirnya. matanya memang terpejam, tapi jelas terlihat pedih di wajahnya. Si mbah putri, pelaku utama pengguntingan sarung pun trenyuh. tak tega melihat cucu kesayangan mbah lanang begitu sedih.

Esoknya, potongan sarung itupun dijahit oleh mbah putri, dicuci, dan diletakkan kembali di kasur lala.

Dan tebak? lala pun tidur pulas sambil ngusep-ngusep sarung belel itu.

mbah putri senyum dan berguram, “oalah nduk.. nduk, sarung keramat rupanya tho?

———

Puluhan tahun kemudian, lala melihat dua putranya yang tertidur pulas, tanpa selimut, tanpa sarung… Lala mendekap tangannya sendiri dan tersenyum tipis. Bibirnya menggumam “untung… bocah – bocah ini tidak punya sarung keramat ”

*story of me, when I was young… J

 “tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin”.

 

 

 

Iklan

One thought on “Sarung Keramat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s