(Unpredictable) Second Pregnancy

Teringat chit chat dengan seorang teman, a young mother just like me. Dia dengan kehamilan keduanya di trimester ketiga, dan aku dengan berita kehamilan keduaku yang baru aku ketahui dibulan kedua.

“waktu tahu hamil, sedih gak len?”

“wah… aku nangis bombai 3 malem lho”

“aku seminggu lebih len…, apalagi kalo pas malem2 sepi gitu, aku liat anakkku (yang pertama) dan mrasa bersalah gitu dan bilang, maafin mama ya rafa….”

Deg….

Dia hamil anak keduanya saat si sulung berusia 4 bulan. Dia bilang dia kepedean gak bakal hamil cepet, karena untuk anak pertama saja dia harus nunggu 1 tahunan dulu. Jadi pas habis ngelahirin si sulung, dia nyante2 saja tanpa Kabe.

Aku kabe, kabe alami, full menyusui, dan melakukan apapun yang disebut dengan kabe alami.

Dan aku hamil kedua, saat salman 1 tahunan….

Dan tetep nangis bombai saat tahu hamil lagi. Aku yang pasca nifas tidak haid sama sekali, jelas gak nyangka, kalau ketidakhaidanku saat menyusui langsung disambung dengan ketidakhaidan akibat hamil. Aku dengan idealismeku, wajib menyusui selama 2 tahun, berencana menyelesaikan toilet training salman sebelum dua tahun, dan ide2, rencanan2 untuk salman yang kurancang hanya dengan 3 penduduk (aku, bie dan salman) tiba2 buyar berantakan saat tahu aku hami lagi.

Jujur, aku shock, karena ini tidak direncanakan sama sekali….. saat itu aku feeling guilty, dan bingung, karena jauh diluar perkiraan. Dan belum lagi…. denger omongan orang  yang bikin panas kuping.

“kabe dong kak!! (maksutnya yang pake obat2an dan alat)”

Loe kagak tahu apa, gw gak boleh pake yang pengguncang hormon, trauma sama yang namanya spiral (selaen karna blom pernah haid, juga karena mertuaku meninggal karena infeksi pemakaian spiral yang gak bener).

“loe kalo bobok, ya bobok aja”

Buset, ne orang pengen gw gampar aja, sapa elo ngurusin urusan ranjang gw?

Etcetera etcetera…..

Dan Allah memberi jawaban padaku dengan caranya yang indah.

Tiba2 saat pengajian, materi yang diusung adalah “hak2 anak kita”, yang salah satunya disebutkan “disambut dengan bahagia”.

Kayak ditampar dah aku pas denger materi itu, langsung bolak balik istighfar sambil ngelus2 si kecil “welcome to the club nak….”

……..

Teringat kata2 suamiku dulu… “memberi dan tidak memberi anak, adalah hak prerogatif Allah dek”

Agar kita  tak jumawa (atau stres berlebihan), saat mendapatkannya, dan agar kita tak bersedih hati, saat kita belum mendapatkannya.

Boleh kita sedih, tapi jangan lebay, toh kita tidak pernah tahu, anak kita yang mana yang paling bermanfaat bagi kita. And am starting enjoy this pregnancy, nyante2 ajah gitu…

Dan mulai berpikir tentang, K.O.M.E.N.T.A.R. Tak semua orang diberi amanah beruntun macam kami, dan mungkin tak semua orang mengerti bagaimana perasaan kami, kondisi fisik dan psikis kami. Tapi aku rasa itu bukan alasan buat orang2 untuk berkomentar sesuka mereka. Kadang aku pengen ngomong hal ini, saat denger orang2 berkomentar tentang (unpredictable) second pregnancy teman2, “kalau sulit buat kalian mengerti, memahami dan support para ibu itu, please… diam aja deh”.

Bener kata hadits, “berkatalah yang baik, atau DIAM!”

Malem2, sambil makan kripik

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s