Kredibilitas Seorang Ibu

Salah satu hal yang paling aku cintai dalam kehidupanku adalah “Menjadi Ibunya Salman”, maka sakit rasanya jika ada orang yang menyinggung dan meragukan kredibilitasku sebagai seorang ibu.(bahkan meski itu hanya guyonan)

Itu adalah shoutout yang pengen aku tulis di facebook, berhubung aku gak sering2 onlen, pun aku gak punya mobile phone yang bisa onlen seharian, maka menulislah saja aku.

Ada seorang rekan yang sengaja-gak-sengaja nyeletuk begini “….justru orang tuh menyesal, kalo punya ibu kayak kamu”. Dua kali dia menyebutnya, loud out dihadapan orang2, sepertinya sih guyon, dan orang2 gak pay attention sama kata2nya. Tapi itu tertinggal di hatiku, menelusup erat ke dalam otakku, ribuan neuron menghantarkan pesan itu ke dalam alam bawah sadarku, mengetuk bagian korteks yang memerintahkan kalenjar air mata memproduksi cairannya. Mataku panas, aku tergugu…..

God…. Aku melahirkan anakku dengan darah, menyusuinya hingga perih2, menangisinya demi batuk2 kcil, berkendara pergi-pulang-pergi-pulang kantor hanya untuk menyusui dan memastikan stok asi perah cukup untuk dikonsumsinya, jumpalitan mengatur waktu agar bisa mendengar tawanya, memahami tangisnya, dan menyuapkan makanan pertamanya. Bertarung dengan rasa lelah yang terus menggoda untuk alpa makan banyak agar aku bisa terus memompa asi untuknya.

Aku mencatat hidup anakku, beratnya, panjangnya, dan menggores2 banyak grafik untuk mengetahui apakah pertumbuhan anakku optimal. Mencatat motoriknya, kata2nya, bahkan membauii dan memelototi pubnya hanya untuk mengetahui apakah dia sudah berkembang sewajarnya.

Aku menangis diam2 setiap melihat dia, meminta maaf atas hak waktu 24 jam untuknya yang tak mampu kutunaikan. Dan menangis lagi, saat kantor mengharuskan aku memilih “meninggalkan anakku dirumah atau mengajaknya keluar kota karna TUGAS NEGARA”

Dan kurasa ribuan ibu normal lainnya juga mengalami hal yang sama.

Aku bukan ibu yang hebat, yang melampaui semua batas keibuan yang pernah dibuat orang. Aku tidak pernah masuk guinessbook, bukan pula ibu teladan yang dapat medali, bukan penderita AIDS yang berjuang agar anakknya gak tertular.

Tapi aku adalah seorang IBU. IBU, yang mendapat anugerah sekaligus amanah yang harus kutunaikan seumur hidupku atas seorang makhluk hidup bernama Salman. Dan aku adalah IBU.

Bahkan meski semua orang yang melihatku selalu kaget dan bilang ”o, sudah menikah ya?”,”Apa?sudah punya anak?”. aku memang masih muda, 24 tahun menikah, 25 tahun punya anak, berukuran mungil dan punya wajah kanakkanak. Tapi rasanya itu tidak bisa dijadikan dasar orang untuk menilai kedewasaan manusia, apalagi untuk memberi raport atas kredibilitas seseorang. Peran sebagai seorang ibu bukan hal yang mudah, bahkan lebih sering teramat sakral. Karna intimacy yang terbentuk antara ibu dan anak, hanya bisa dipahami oleh mereka. Mereka, yang terikat darah, jiwa, pikiran dan hati. Seperti aku dan Salman.

Maka apa hak KAMU! Menyinggung kredibilatasku? Karna toh bukan kepada KAMU aku harus membuktikannya, tapi pada TUHANKU, SUAMIKU dan ANAKKU. Jadi please… gunakanlah kata-kata yang patut saat kamu melontarkan lelucon, yang kau anggap lucunya indah menjulang, tapi perihnya menghempasku dalam2 ke dasar jurang.

 pilu, sepilu2nya…..

-uminya salman-

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s