Mengais ramah di kota bertuah

Aku masih ingat, hal pertama yang dulu bikin aku senewen saat menginjakkan kaki di Pekanbaru adalah keramahtamahan. Sebagai orang jawa yang ewuh pakewuhnya tinggi, kaya akan toto kromo dan itsarnya advance, agak sedikit terpukul saat menemukan bahwa disini -tempat yang mungkin akan lama aku tinggali- sangat sulit mengais keramahtamahan.

Shock pertama adalah airport.

Terlambat sedikit turun dari pesawat, anda tidak akan pernah menemukan troli. Alhasil (lucunya atau sedihnya) anda harus keluar dari pintu kedatangan melewati petugas bandara, security dan barisan para penjemput dengan lenggang kangkung, mengambil di luarrrr sanaa dan balik lagi ke tempat pengambilan bagasi. Aneh to?. Trus….. sodara-sodara, bagasi anda akan keluar melalui “treadmill” lurus yang berujung ke lantai. Jadi kalau tu barang2 gak ada yang ngambil ya langsung jatuh kelantai, lalu numpuk2 gak keruan. Pas kita keluar pun, petugas bandaranya rata-rata pada males ngecek barang2 kita, apalagi kalau jumlahnya sudah banyak. Kebayang kan, kalao ada orang ‘nakal’ ato iseng ngambilin barang kita?

Shock kedua, TAKSI

The worst taxi I ever know is in here. Worst, worst, worst!. Gee, gak pernah menemukan kombinasi buruknya fasilitas, administrasi dan mental armada pertaksian selain di Pekanbaru ini. Semua taksi disini gak pake argo!, kalo ada yang pake -dari puluhan kali aku pake taksi, Cuma satu yang mau pake argo- pasti argonya dicurangin. Tawar menawar jadi andelan, tapi rata2 mereka punya patokan, minim banget 30rebu lah, itupun jaraknya gak lebih jaoh dari 5kilo. Itupun jangan dibayangin taksinya pasti adem, kursinya empuk, pengemudinya ramah dan cara nyetirnya nyaman macam blubert. nyang ada mah, kacanya diitemin, sandaran leher dicopot, nyetirnya ugal2an sambil sering banget mbunyiin klakson. Sebelnya nih, meski udah ada kita sebagai penumpang, gak jarang mereka bakal ngangkut penumpang laen yang lagi awe2 di jalan. Bete banget kan? Ni taksi apa angkot?!?!.

 

Keawut2an armada pertaksian disini mencapai pucaknya jika dikombinasikan dengan airport. Setelah penat mencari2 barang kita yang entah terserak kemana. Kita musti dilelah-lelahkan dengan prosedur ‘mencari taksi’. Check this out, pengalaman terakhir aku pas naik taksi di bandara :

Bawa barang dengan troli à menuju konter taksi à orang konter akan ngasih koran dan kertas gak penting, lalu manggil supir à sopir dating, lalu melongo ‘ini semua barangnya bang????’, pas dijawab iya, si supir ngambil troli dengan barang paling sedikit (aku bawa dua troli), trus ndorong sekenanya, troli orang didepan pun didiorong2 asal dia bisa lewat, nyebrang dengan asal, lalu masukkin barang2nya ke bagasi. Dengan nyantenya dia bilang ‘bang, barangnya kan banyak banget, ntar bayarnya ditambahin ya, biasanya kan 70 ribu, ntar abang tambahin ya!’, pas aku jawab, ya ntar ditambahin jadi 75, dia malah marah2. bayangin?!?!, ongkos taksi dari rumahku aja 70rebu. Lakok dari bandara, udah dipalak petugas konter 10rebu, ongkosnya tetep, nah ini supirnya mintak tambahan. Emangnya dia pesawat apa? Over bagasi minta tambahan. Dan tahukah anda? Kami berdebat masalah harga ini ditengah jalan, karena tu supir marker mobilnya ditengah2. Haduh,,,, tobat2 aku…sepanjang jalan hatiku dongkol gak keruan.

Shock ketiga, BELANJA.

mmm…. Anda akan kesulitan menemukan penjaga toko yang ramah, meski itu supermarket atau department store nasional. J.

Well,,,, sejauh ini, analisaku ke-nggak-oke-an pelayanan di bidang jasa di kota Bertuah ini, mungkin didasari oleh ketiadaan competitor yang lebih jauh. Mungkin orang pemdanya berharap mereka bisa memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal di kota mereka. Tapi saya, hal itu tidak melecut mental mereka untuk menunjukkan kearifan budaya lokal mereka. Alih2 jadi ramah, malah mereka semenda-mena.

Leyn,

Merana,… berharap blubert masuk ke kota ini.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s